Kilometer Nol Menjadi Orang Tua

Lahirnya Mahya Jihan putri kami adalah titik Kilometer Nol kami menjadi orang tua.

Lahirnya Mahya Jihan putri kami pada pukul 9.50 wib tanggal 7/7/17 adalah titik Kilometer Nol kami menjadi orang tua. Apa yang saya ketahui tentang menjadi Bapak adalah nol besar, tapi demi keluarga kami siap belajar menjadi orang tua yang baik. Selamat datang Nak, doa kami semoga Allah menjadikan engkau anak yang solehah. Pesan kami pada mu sama seperti pesan kakek nenek kepada papa yang dikutip dari pesan Luqman kepada anaknya yang jika engkau bisa membaca Al-Qur’an nanti lihatlah surat Luqman ayat 12 sampai 19. Pahami dan amalkan ya anakku yang cantik.

 

Lensa Manual 50 mm untuk D7200

Banyak yang bilang di youtube atau blog kalau lensa fixed yang wajib dimiliki adalah lensa 50 mm karena fokusnya cepat dan harga cukup terjangkau. Niatnya saya ingin beli versi AF-S namun berhubung budget minim dan body kamera saya sudah dilengkapi motor saya putuskan untuk beli yang AF-D (manual) saja. Katanya kualitasnya gak beda.

Nikon D7200 dengan lensa AF-D 50 mm f/1.8.

Jujur saja, saya tidak begitu mengenal lensa-lensaan baik deri segi fungsi maupun kualitas. Hal yang saya tahu dari lensa 50 mm ini hanya berdasarkan browsing di internet. Nah.. kali ini saya ingin coba sendiri lensa baru saya yang saya beli beberapa hari yang lalu dan harganya setengah dari harga lensa AF-S 50 mm.

Objek pertama saya jatuh pada botol aqua di belakang saya. Hasilnya impresif mengingat saya memotret di dalam ruangan pada malam hari dan sumber cahaya berasal dari 2 buah  lampu led di langit-langit rumah.

Objek pertama, botol aqua bertulisan Gubrak.

Menguji lensa dengan 1 gambar saja memang tidak cukup, saya lanjut foto objek-objek lain yang ada di rumah. Hasilnya cukup bagus, meskipun beberapa gambar memang kehilangan fokus karena memang teknik fotografi saya yang masih amatiran. hehe.. Berikut foto yang kira-kira fokus saja yang ditampilkan.

Botol asi untuk menyimpan asi di freezer
Minions mainan dari happy meals mc donalds.
Motor vario yang sengaja dimasukkan ke dalam rumah saat malam hari. Foto ini menggunakan built-in blitz.
Mainan traktor dari takara tomy (tomica) koleksi saya.
Keponakan yang reflek pasang gaya di depan saya pada saat saya sedang jeprat-jepret kamera.

Foto-foto yang dihasilkan oleh lensa manual 50 mm ini terlihat cukup mengesankan. Fokusnya bagus terutama di bagian tengah, cukup tajam dan mengesankan. Tapi saat saya memotret random tanpa ada objek khusus yang menjadi fokus utama gambar, kualitas hasilnya jauh menurun dan warnanya agak pucat. Ini beda jauh saat lensa ini memfoto potrait. Mungkin ini yang dimaksud kalau lensa 50 mm f/1.8 itu adalah lensa potrait.

Foto karpet, warnanya agak pucat.

Berikutnya saya coba luar ruangan dan pada waktu siang hari. Saya duduk di belakang mobil yang sedang jalan, jendela mobil saya buka habis sehingga saya bisa memotret tanpa filter kaca film mobil. Oya, saya sengaja set shutter speed antara 200 – 500 dan diafragma antara f/4 dan f/8, sedangkan iso saya biarkan body D7200 yang memilihkan untuk saya. Saya halnya dengan dalam ruangan sebelumnya, foto luar ruangan ini pun banyak gagalnya dan yang saya tampikan adalah yang saya anggap cukup berhasil saja.

 

Pengharum mobil saya saya tumpangi, bokehnya cukup impresif.
Mobil panther warna oranye putih di pinggir jalan Sariwangi.
Gerbang perumahan bumi sariwangi.
Seorang ibu sedang beli cilok untuk dirinya dan anaknya.
Orang ini dengan sedang menari-nari bahagia di pinggir jalan setelah turunan Ciwaruga.
Mesjid At-Taufiq yang di depannya biasa dijadikan tempat ngetem angkot Polban – Ledeng.
Gerobak cilor tanpa penjual, kalau dicomot dari dalam mobil kira-kira penjualnya tahu tidak ya?
Hp pengendara ini berdering dan dia sengaja menepi untuk menerima telpon.
Hotel Gegerkalong ini sudah ada dari lama.
Gerobak aneka jus di pertigaan KPAD Gegerkalong Hilir.
Seorang pria sedang bersandar di tiang listrik di pertigaan KPAD Gerlong Hilir, sepertinya pria ini seorang opang (ojeg pangkalan).
Kaca ini sengaja dipasang untuk membantu mengawasi kondisi jalan pada saat mobil yang parkir ingin keluar. Saya sepertinya salah setting sehingga iso yang dipilihkan kamera cukup tinggi.
Motor beat yang kelihatan buntutnya saja.
Plang praktek dokter Benjamin T. di pertigaan lampu merah Gerlong Hilir.
Taman kecil di simpang lampu merah Gerlong Hilir.
Pengendara motor yang sedang menunggu lampu merah berubah hijau.

Itu lah deret foto dimana terdapat objek tertentu di bagian tengah gambar. Memang tidak semuanya mengesankan, namun menginat saya mengambil gambar dalam kondisi mobil sedang bergerak hasilnya cukup bisa diterima. Deret gambar berikut dimana tidak terdapat objek khusus di tengah gambar.

Deret bangunan perumahan cluster di wilayah Sariwangi.
Perumahan di sebelah alfamart Sariwangi.
Rumah super besar yang tampak dari turunan Ciwaruga yang super curam.
Saya ingin fokus ke pak polisi namun kamera berkeinginan lain, fortuner tampak lebih charming dibandingkan pak polisi.
Kemacetan Setiabudi arah Lembang, siapa yang gak stress kalau begini. Si Komo aja ikut stress.

Kesimpulan saya, saya sepakat kalau lensa ini adalah lensa potrait. Kalau kualitas saya rasa tergantung feeling dan selera masing-masing saja. Untuk foto dimana tidak ada objek tertentu yang menjadi fokusnya, pendapat saya lensa ini kewalahan cenderung kebingungan. Namun saya cukup puas dengan hasil jepretan saya tersebut dan saya akan bawa lensa ini selama traveling untuk memotret foto-foto narsis. Hehe..

Fotoin Mobil-Mobilan alias Diecast

Beberapa bulan terakhir saya tidak sempat kemana-mana karena musim hujan serta adanya kesibukan menyelesikan S3 saya yang sudah 5,5 tahun ini saya jalani. Ditambah InsyaAllah kami pun sedang bersiap menanti kelahiran anak pertama. Kamera DSLR saya pun sudah menganggur cukup lama. Diawali dari browsing sana-sini akhirnya saya menemukan cara lain agar si D7200 tidak nganggur yaitu dengan cara diecast photography. Sebenarnya saya baru tahu kalau mobil-mobilan itu namanya diecast.

Pertama mencoba, saya ke toko mainan untuk mencari yang namanya mobil-mobilan sebesar korek api. Pelayan toko mengarahkan saya ke mobil-mobilan Tomica seharga 60 ribu. Saya beli VW Polo dengan sedikit potongan harga dan sesampainya di rumah langsung jepret. Hasilnya..

Jepretan pemula, VW Polo Takara Tomy.

Oya.. untuk menjepret diecast ini saya pakai tripod ballhead dan shutter release agar hasilnya bagus. Lensa yang saya gunakan adalah jenis micro 40mm f/2.4 (AF-S Nikon punya) karena mainan ini tidak bergerak dan pula tidak terlalu zoom. Oya karena saya tidak punya speedlight eksternal, jadi saya selalu pakai iso 100 dan speed lambat agar hasilnya detil.

Tidak lama VW ini bertahan menjadi satu-satunya mainan mobil yang saya punya. Esok sorenya saya mampir ke minimarket depan rumah dan tidak sengaja melihat hotwheels diskon, harganya 1/6 Tomica. Dengan sedikit canggung saya pun membeli beberapa unit hotwheels secara terburu-buru. Malu juga sudah mau punya anak masih main mobil-mobilan. Bahkan pada suatu hari saya sedang pilih-pilih hotwheels, seorang anak merengek ke ibunya minta dibelikan hotwheels yang sama dengan apa yang sedang saya pegang. Jawaban ibunya, “gak usah! itu tak berguna!”. Saya sih lempeng aja.. hihi.. Emang kalau dimainin gitu aja sih memang tidak berguna. haha..

Toyota off-road truck keluaran hotwheels.
Lupa ini namanya apa, keluaran hotwheels. Saya sebut aja dia si nomer 5.

 

Mobil Aston Martin klasik keluaran hotwheels. Saya suka betul warna catnya.

Hingga sekarang, sudah banyak diecast baik hotwheels maupun Tomica yang saya beli baik dalam keadaan diskon maupun tidak. Saya pun kadang-kadang mengajak istri memilih mobil-mobilan sambil tebak-tebakan mana yang saya suka mana yang tidak. Saya pun memberi tahu istri saya bahwa saya tidak peduli mobil-mobilan tersebut adalah item yang paling dicari se-jagat raya, yang saya cari adalah mobil-mobilan yang proporsional dan enak dilihat dan difoto. Saya agak heran banyak orang dewasa tertarik mengkoleksi mainan yang sering saya tabrak-tabrakin waktu kecil. Sementara saya, setelah puas fotoin mauinan kemudian saya hibahkan kepada keponakan atau sepupu yang memang suka mainan mobil. Tapi saya pun menyisakan sebagian siapa tahu saya kangen ini foto mobil itu lagi.

Tiga mobil putih.

Saya hanya membeli merk hotwheels dan Tomica saja, merk lain saya tidak beli. Namun saya lebih suka merk Tomica karena lebih proporsional dan mendekati model asli. Berhubung harga Tomica mahal jadi saya belinya insidental saja.

Unimog Mercy dari Tomica.
Kadang-kadang diecast Tomica ada variasinya seperti pintu bisa buka tutup atau bak truk Unimog ini bisa naik.

Semakin dalam saya browsing tentang diecast, semakin rumit teknik fotografinya. Bahkan menurut rumor, iklan-iklan mobil banyak yang dibuat dari model diecast. Diecast yang detil tersebut harganya bisa jutaan. Bahkan ada yang sengaja membuat diorama agar aktivitas diecast terlihat asli. Tapi sepertinya saya belum sampai ke arah sana, saya masih senang mengulik pose pada angle-angle tertentu yang saya anggap keren saja.

Dodge Daytona warna ungu keluaran hotwheels, dilengkapi dengan pemberat di depan sehingga kemungkinan top speed mobil ini cukup tinggi di track lurus.

Selain mencari sudut foto, kadang-kadang saya suka menyusun beberapa diecast bersamaan seolah-olah sedang melakukan aktivitas bersama-sama. Salah satunya, foto berikut saya beri judul “Mudik 2017” karena saya ambil saat puncak mudik lebaran kemarin.

Mudik 2017.

Kumpul Bareng di Kopi Kodok

Akhir-akhir ini pamor kopi seperti melambung tinggi, para ‘pencinta kopi’ mulai bermunculan. Banyaknya pencinta kopi ini sepertinya sangat dimanfaatkan oleh pengusaha kuliner dengan membangun warung-warung kopi baru dengan mengangkat tema ‘the real coffee’ alias kopi dari biji langsung. Daerah rumah saya pun menjadi salah satu tempat strategis untuk membangun coffee shop. Sebut saja, 5758 yang terkenal dengan coffee labnya, warung kopi modjok yang emang modjok, ngopi doele di pinggir jalan Setiabudhi Bandung, kopi Bulukumba di Gerlong Hilir, Morning Glory di jalan arah ke Lembang, dan kali ini yang saya kunjungi namanya kopi Kodok di daerah Sersan Bajuri Bandung. Awalnya saya tidak mengira di lokasi tersebut ada warung kopi dan saya mengetahuinya saat ada rekan yang mengusulkan untuk kumpul di sana.

Lokasi kopi Kodok ini di pinggir jalan sebelah kiri (jika ingin ke arah kampung gajah dari terminal Ledeng), agak tersembunyi dari jalan.
Lokasinya persis di sebelah sungai dan di tengah pepohonan.
Tempatnya sederhana dan cukup luas, bisa disebut lokasinya Instagrammable.
Deretan pohon ini yang membuat coffee shop ini tak terlihat dari jalan raya.
Coffee shop ini juga dihiasi dengan tanaman-tanaman hias yang bisa dipakai berfoto. Tapi saat saya kunjungi tanamannya pada berdebu, mungkin karena beberapa hari tidak hujan.

Hampir semua coffee shop pelayanannya bagus termasuk coffee shop ini. Kami saat itu sengaja mampir ke sini dengan harapan dapat jadi tempat rapat dan kumpul bareng. OK.. lalu apa kopi yang ditawarkan? Saat saya tanya ke pegawainya, mereka menggunakan kopi Manglayang. Saya pernah beli satu bungkus varian kopi ini ke salah satu rekan dan ludes hanya dalam 1 hari saja karena banyak yang suka. Biasanya di setiap coffee shop yang saya kunjungi saya akan pesan cappucinno (bukan espresso atau black coffee), tapi sayangnya malah pesan creme brulee. Sedikit menyesal tidak pesan cappucinno, creme brulee di sini di bawah ekspektasi saya (bukan salah coffee shopnya, mungkin karena saya lagi apes saja kali). Sebagai makanannya, tempat seperti ini paling cocok makan indomie rebus telor atau yang sedikit terdengar mewah bisa pesan mie tek-tek. Haha…

Creme brulee ini tampilannya bagus sekali. Tapi saya masih ingin cappucinnonya.
Saya pesan indomie rebus telor, sedangkan ini mie tek-teknya.

Tidak ada salahnya sambil ngobrol sambil makan, makannya sederhana tapi ngobrolnya yang bikin seru. Saat itu lokasinya sedang sepi dan kami seperti bebas menggunakan meja manapun tanpa dimarahi. Memang lokasinya cocok untuk berlama-lama terutama saat cuaca cerah ya.

Kami bebas ngobrol pakai meja manapun saat sepi. Ada meja yang cukup panjang terbuat dari kayu yang kami pilih.
Sambil santai, sambil membuat program kerja selama setahun ke depan.
Bapak ini berhasil menangkap seekor ular pucuk di salah satu pohon dekat lokasi warung kopi. Ini pertanda bahwa lokasi tempat warung kopi ini berdiri masing alami.
Sekedar info, ular pucuk itu tergolong ular berbisa menengah. Kalau orang dulu pernah bilang ular ini bisa terbang. Tapi beberapa referensi juga mengatakan jika ular ini sering dijadikan peliharaan karena bisanya tidak mematikan.
Ini semua kru rapat kali itu, kami memanfaatkan waktu dari pukul 12 siang hingga 16 sore. Mulai dari bicara program kerja hingga sharing pengalaman. Tempat sederhana ini mudah-mudahan bisa menjadi awal inspirasi baru kami. Amiin.

Kendari, Mei 2016

Kendari itu ibu kotanya Sulawesi Tenggara, dari Bandung untuk ke kota ini harus transit di Makassar. Saat itu kami pesan tiket pukul 6 pagi WIB ke Makassar connected flight jam 9.45 WITA  dari Makassar ke Kendari. Kami pesan via online dan sistem maskapai memberikan jadwal penerbangan tersebut. Terkejar pesawat transitnya? Saat itu tidak, karena dari Bandung keberangkatannya delay 1 jam. Alhasil pesawat ke Kendarinya diganti oleh maskapai menjadi pukul 13.00 WITA. Sempatlah kami main-main di bandara Makassar sejenak.

Kapal phinisi di bandara Makassar.
Mungkin karena masih pagi jadinya bandara ini agak sepi. Sebenarnya ini salah satu bandara super sibuk di Indonesia lho..

Penerbangan Makassar ke Kendari gak pakai lama, kurang dari sejam. Nunggu pesawatnya siap saja yang lama. Sampai lah kami di hotel tempat acara dinas kami dan istirahat hingga Maghrib. Oya saya juga telpon teman saya yang asli Kendari untuk bisa menunjukkan kota tempat tinggalnya.

Teman saya asal Kendari.

Kami ke kota ini dalam rangka dinas, esok hari segara urusan kerjaan mulai kami kerjakan dari pagi hingga sore.

Sosialisasi beasiswa ke pemerintah kota Kendari.
Tidak lupa absen.

Beres acara, hari masih sore. Bagi yang belum pernah ke Kendari, jadi kota ini berada di teluk yang namanya sama dengan nama kotanya. Betul pinggir pantai tapi gak ada pantainya, malah lebih mirip danau. Bahkan katanya mau direklamasi (infonya 2016, gak tahu sekarang).

Berdiri di tengah teluk kendari yang sebagian sudah ditimbun.
Tidak ada pantainya, airnya pun terlihat tenang dan dangkal.
Meskipun dangkal, sepertinya dasar air ini adalah lumpur yang bisa nyedot ke bawah.
Sore hari langit bisa terlihat biru seperti di gambar ini.
Ba’da maghrib di teluk Kendari banyak yang jual pisang epe khas Makassar.

Ke kota orang, hal yang wajib saya lakukan adalah wisata kuliner. Bagi saya, dengan kuliner kita bisa mencicipi ragam budaya suatu ‘nagari’. Jelas sekali kuliner Kendari ini sangat terpengaruh ragam budaya Makassar. Ikan masak palumara dan masak woku di sini langsung menjadi favorit saya, kedua metode itu berasal dari nagari Makassar. Bahkan menurut saya, saya lebih suka versi Kendari. Oya.. ada juga seafood bakarnya dan kali itu saya pesan udang bakar yang harganya jauh lebih ekonomis di bandingkan jika beli di Bandung. Hmm.. kira-kira sama seperti beli udang dan dibakar di pasar Indramayu (sebagai info, Indramayu itu di Pantura dan terkenal dengan seafood dan mangga gedong gincunya). Sambalnya agak unik, racik sendiri. Seru sekali, mau banyak atau sedikit tidak ada bayar asal mau bikin sendiri. Tersedia pula sambal kacang dan sambal acar. Jelas sekali jika saya ke kota ini lagi, yang pertama saya cari adalah kuliner seafoodnya. Terutama, palumara.. Maknyusss…

Menu seafood di pinggir teluk Kendari.
Sambalnya racik sendiri, kita bisa takar sesuai selera.
Udang bakar tidak diberi bumbu tambahan, Rasanya manis, persis Indramayu.
Sebenarnya ini es pisang ijo di bandara Makassar, saya lupa foto yang versi Kendari.

Tanaman di Sekitar Komplek

Pas hari Minggu, untuk menghilangkan jenuh membuat jurnal internasional, ambil kamera D7200 dan lensa micro jeprat-jepret objek-objek tanaman sekitar komplek sambil. Ini hasil jepretan dalam setengah jam saja berkeliling komplek.

Jamur yang tumbuh di pohon mangga di halaman depan rumah.
Bunganya menarik, tapi batangnya berduri tajam dan banyak.
Daun ini seperti dimakan oleh ulat.
Tunas dari rumput yang tumbuh di selokan. Biasanya ini dibabat.
Tanaman rumput yang biasannya dibabat.
Tanaman rumput, tapi ada bunganya.
Bunganya bagus, tumbuh liar di pinggir jalan.
Tanaman ini jadi pagar rumah tetangga.
Tanaman alternatif buat pagar, daun dan batangnya lebat sekali.
Dulu waktu kecil sering menjentik bunga ini sampai-sampai kelopaknya rontok semua.
Bunga ini banyak varian warnanya. Yang satu ini warnanya bagus.
Buah delima di rumah kosong, gak dipanen sampai-sampai busuk pada dimakanin kalong.
Ingat bunga yang warnanya menarik dan berduri? Ini durinya..
Lumut di tembok mesjid dekat rumah.
Bunga ungu mirip kembang sepatu tapi tidak terlihat putik dan benang sarinya. Ukurannya pun tidak terlalu besar.
Serumpun bunga oranye, menyegarkan mata jika memandangnya.
Bunga dari salah satu batang kelapa pendek yang ditanam oleh tetangga.
Batangnya mirip kelapa, ini buahnya.
Tidak selamanya tanaman liar itu jelek, buktinya bunga ini tumbuh liar tapi bunganya bagus.
Bunga ini banyak sekali tumbuh di pinggir jalan.
Tanaman ungu yang bergerombol milik tetangga.
Mirip lavender.
Tanaman ini biasa ditanam di dalam pot dan diletakkan di dekat pagar.
Tanaman ini sengaja diletakkan pemiliknya di depan bonsai yang jadi pagar rumahnya.
Ini nangka.
Mirip cemara, tapi bukan cemara. Sepertinya ini salah satu varian yang evergreen juga.
Lumut kayu.
Mangga muda, lebih tepatnya mangga bayi.
Lumut dan tanaman benalu yang suka nebeng hidup di pohon.
Sebagian bunga ini sudah layu.
Saya tidak tahu ini bunga apa, tapi semasa mudanya dia sering dikerumuni semut. Apa mungkin bunga ini rasanya manis? Tidak berani coba takut kalau-kalau beracun.

Siang Mie Ayam Jakarta, Malamnya Sate Yayan Gondrong

Dua kuliner ini jadi menu andalan saya dan tim kalau sedang dinas di Jakarta, khususnya daerah Kebayoran Baru. Jika sudah tiba waktu makan siang, terutama di hari jum’at, mie ayam Jakarta depan mesjid Al-Azhar atau di trotoar gedung KemenPUPR adalah menu wajib yang harus dicoba. Pesan seporsi mie ayam dan segelas kopi saset panas tak lebih dari 20 ribu perak kok.

Mie ayam Jakarta dan secangkir kopi Torabika latte panas selepas Jumatan di Masjid Al-Azhar Jakarta.

Lho.. apa kenyang dengan mie ayam untuk makan siang? Nah! Di sana letak seninya, sengaja tidak terlalu kenyang untuk memberikan space bagi sate kambing khas Tegal bernama sate Yayan Gondrong. Lokasinya setelah jembatan semanggi arah ke Bandung, ada di pinggir jalan yang tembus ke arah Mega Kuningan. Tidak ada parkiran mobil, parkirnya di Circle K di sampingnya. Bayar 5 ribu ke om parkir yang sangar namun lembut hatinya.. haha..

Lokasi sate Yayan Gondrong di dalam GoogleMaps.
Persiapkan diri jika lewat Semanggi sore hari, pasti macet.

Oya! Jangan lupa pesan sekalian dengan sop dan teh poci gula batu atau es jeruk atau jeruk panas sebagai penghilang dahaga. Saya juga mengingatkan jika ke sini, makannya jangan banyak-banyak.. Nanti habis.. haha..

Sate yang sedang dibakar tampak enak, namun harus berfikir ulang untuk makan ini. Bisa bersabar adalah bentuk lain dari kebahagian.
Sate 10 tusuk, sop kambing bagi-bagi, dan teh poci gula batu menu favorit saya. Meskipun pada akhirnya saya tidak sanggup menghabiskan semua ini (biasanya cuma 5 sampai 6 tusuk saja) namun ada rekan di samping saya yang siap sapu bersih.