Menanti Golden Hour di Kotabaru Parahyangan

Berangkat pukul 14.45 dari Cihanjuang, niatnya ingin ke Masjid Al-Irsyad Kotabaru Parahyangan. Shalat Ashar di sana sekaligus ingin motret golden hour sunset. Hari minggu ini kebetulan jam tersebut jalan tol masih sepi, kami sampai tepat adzan Ashar berkumandang.


Ba’da Ashar, saya pun mulai hunting foto sunset. Namun berhubung hari masih siang dan matahari masih cukup tinggi, saya harus bersabar beberapa menit agar dapat posisi matahari tepat di belakang bangunan mesjid. Sambil menunggu, kami pun pindah lokasi ke pusat jajanan di depan Rumah Sakit Kawaluyan. Saya dapat sate porsi jumbo seharga 20 ribu di sana sedangkan keponakan saya menikmati baso tahu dengan harga yang sama. Tampaknya keponakan saya lebih menginginkan sate saya ketimbang baso tahunya, sehingga sebagian saya bagi untuk dia.


Meskipun jumbo, waktu untuk makan makanan ini tidak lama. Saat kami selesai makan, matahari masih cukup tinggi. Kami pun bersantai sejenak di lokasi ini. Saya sempat mengambil beberapa foto di lokasi ini.


Bosan di tempat ini kami kembali ke lokasi Masjid Al-Irsyad. Kembali, matahari masih cukup tinggi, saya pun mengambil beberapa foto sambil menunggu saat matahari cukup tergelincir di barat.


Sekitar pukul 16.45 WIB., saat yang saya tunggu pun muncul. Saya ambil beberapa gambar, kemudian kami beranjak pulang. Meskipun menunggu lama namun saya cukup puas dengan hasil jepretan saya.

Rileks dengan Lensa 70-300mm Tanpa VR

Beberapa kali diskusi dengan teman yang memang sudah expert dalam bidang fotografi, banyak yang bilang kalau lensa tele (Nikon ya..) terbaik adalah 70-200mm f/2.8. Terbaik dalam arti luas, kemungkinan menurut saya terbaik karena multi-fungsi. Banyak yang bilang lensa ini terbaik untuk sport, foto hewan peliharaan maupun wildlife, fashion, portraits, street, hingga foto low-light maupun direct sun-light. Harganya pun terbaik, dengan kualitas terbaik tersebut lensa ini dibanderol seharga sekitar 34 juta (2017). Hmm.. Ok.. lensa ini untuk fotografer yang serius. Saya belum mencapai tahap fotografer serius, saya ingin lensa tele yang tidak terlalu serius, saya ingin yang rileks.

Browsing di web, ternyata ada lensa tele ekonomis. Saya katakan ekonomis ya, bukan murah. Dengan harga sekitar 1,4 jutaan saja (2017) bisa memiliki lensa 70-30mm f/4-5.6 tanpa reduksi getar (VR Nikon) dan tanpa auto fokus di lensa (AF-D). Setiap lensa pasti ada karakternya, tak terkecuali lensa ini. Mampu menyaingi  70-200mm f/2.8? Baca harganya saja tidak mungkin lah!

Lensa Nikon AF-D 70-300mm f/4-5.6 dipasang di Nikon D7200 yang memiliki motor fokus di body.

Seberapa jauh lensa ini mampu zooming? Bagi yang tahu daerah Bandung, posisi saya di jembatan layang Pasopati masih dapat memonitor aktivitas pekerja bersih-bersih di gedung hotel area Cihampelas Walk.

Full zooming dari jembatan layang Pasopati Bandung ke arah Cihampelas Walk. Foto ini saya ambil dari atas mobil yang sedang diam tanpa tripod. Kondisi Bandung saat itu sangat berawan dan berkabut.

Dalam kondisi minim cahaya, kemampuan lensa ini tak jauh dari kualitas kamera handphone. Absennya VR (vibration reduction) berarti shutter speed saat memotret setidaknya  1/1000 detik dalam posisi full zoom, sebagai pay-off nya ISO dan diafragma pun mengalah. Sialnya diafragma maksimum pada full zoom adalah f/5.6, hal ini mengakibatkan ISO harus mengalah total. Jelek? Nanti dulu.. Seperti kata saya sebelumnya, setiap lensa pasti ada karakternya.

Silahkan Anda duduk rileks di luar ruangan saat cahaya matahari cukup, ambil tripod yang kokoh dan pasangkan kamera dengan lensa ini. Tripod hanya digunakan untuk menopang kamera saja, head tidak perlu dikunci agar tangan kita bebas memutar arah kamera. Cari objek-objek menarik baik dalam kondisi diam maupun bergerak dengan jarak yang memadai. Atur auto fokus ke mode tracking. Kapanpun Anda siap, ambil gambar itu. Berikut beberapa hasil gambar D7200 + 70-300mm Non VR oleh amatiran seperti saya..

Kibaran sang saka merah putih di latar belakangi langit cerah.

Saat langit cerah, hasil gambarnya impresif. Harga ekonomis namun tidak murahan. Selanjutnya, saya coba masuk ke dalam ruangan mencari objek model orang yang bisa saya foto sambil duduk rileks. Hasilnya..

Foto adik saya yang sedang melamun memikirkan sesuatu yang penting menurut dia namun belum tercapai hingga kini. (Dia ingin ke Palembang menggunakan mobil, naik kapal, makan pop mie di atas kapal, dan disetiri om Sopir.. Haha..)

Saat saya sedang asing nyeruput kopi, tampak dari kejauhan seekor kucing melintas di tengah jalan. Sambil rileks saya arahkan fokus ke matanya yang biru dan hasilnya …

Kucing ini saya beri nama Blue Eyes Golden Cat (terinspirasi dari Yugi Oh).

Terakhir, lensa 70-300mm non VR ini jelas adalah lensa teman rileks Anda. Mungkin karakter lensa ini adalah potrait karena saya belum coba untuk yang lain. Blur background nya (bokeh) sedang, ketajamannya tergantung kecekatan fotografer. Low-light sudah jelas kewalahan, high speed object bisa saja asal fotografer sanggup stabil mengimbangi kecepatan objek. Tripod tidak wajib tapi lebih baik ada. Harga? Ini adalah lensa DSLR brand Nikon termurah yang ada di website-website toko kamera. Haha..

Warna-Warni Festival Teluk Humbold 2017

Ini kali pertama saya ke tanah Papua, Kota Jayapura. Akhirnya kita bertemu, tanah di ujung timur negeriku. Saya turut membawa kamera DSLR saya ke sini, berharap ada momen bagus yang bisa saya capture. Nanti saja cerita perjalanan saya ke sini, kali ini momen bagus yang dimaksud tanpa disangka muncul dalam bentuk Festival Teluk Humbold. Pucuk dicinta, ulam tiba..

Persiapan Festival Teluk Humbold sudah dimulai sejak pagi buta, namun karena kendala cuaca, hampir tengah siang acara belum dimulai. Tampak pemain orgen sedang melakukan check sound berkali-kali.
Tan Pariwisata Port Numbay menyiapkan topi yang terbuat dari bulu berwarna kuning untuk dipasangkan di kepala tamu VIP. Tampak genangan air di arena festival sisa hujan deras beberapa menit yang lalu. Meskipun demikian, semangat masyarakat tetap besar untuk mensukseskan acara ini.
Entah dari jam berapa bapak-bapak petugas ini berdiri di sini, ini adalah bagian dari protokoler tamu penting di Festival Teluk Humbold.
Pemuda pemudi para duta wisata Port Numbay kebanggaan kota Jayapura.
Mendengar tamu VIP sudah dekat, sang Chief melakukan monitoring terakhir dan memerintahkan seluruh anggotanya bersiap untuk upacara penyambutan.
Salah satu grup penari pun melakukan briefing terakhir menjelang pembukaan Festival Teluk Humbold.
Seorang penyanyi bergaya reggae menghibur para tamu yang tampak mulai bosan akibat delay acara.

Acara ini pada awalnya direncanakan dimulai pukul 9.00 WIT. Saya dengar akan ada sambutan besar di acara pembukaan festival yang dihadiri Wakil Gubernur Papua, Walikota dan Wakil Walikota Jayapura karena sehari sebelumnya kota Jayapura baru saja menerima anugerah Adipura. Apa daya, manusia berencana Allah menentukan. Pagi itu Jayapura diguyur hujan deras yang mengakibatkan banjir dan longsor. Bapak Walikota yang direncanakan mendarat di Sentani di pagi hari terpaksa ditunda pendaratannya karena bandara Sentani tidak bisa didarati pesawat. Acara pun mundur hingga pukul 11.30 WIT. Hujan hanya meninggalkan gerimis kecil, Tan dan Monj Pariwisata Port Numbay Jayapura pun mulai bersiap, berdiri dengan gagah dan anggun menyambut Wakil Gubernur Papua jajaran Muspida kota Jayapura.

Bapak Walikota Jayapura yang kemarin baru saja menerima anugerah Adipura di Jakarta untuk kota yang dipimpinnya.
Wakil Gubernur Papua dan Wakil Walikota Jayapura didampingi Tan dan Monj Port Numbay dengan ramah menyalami masyarakat yang sudah menanti kehadirannya di Festival Teluk Humbold.
Lagu-lagu tradisional Papua mulai dinyanyikan saat tamu VIP memasuki arena festival, suasana seketika menjadi.. hmm.. menjadi apa ya.. seru mungkin kalimat yang tepat. Teriakan-teriakan, nyanyian, tarian terasa menyatu.
Sambil memainkan tifa, alat musik pukul khas Papua, para penari ini merentakkan kakinya dan membentuk lingkaran besar.

Setelah tanya sana-sini, ternyata festival tahun 2017 ini adalah yang ke-9 kalinya. Festival ini menampilkan budaya dan karya seni masyarakat Papua. Sayang.. saya hanya bisa menyaksikan hari pertamanya saja, esok harinya saya harus terbang kembali ke Bandung, kota tempat tinggal saya. Oya.. Teluk Humbold ini nama lainnya adalah Teluk Yos Sudarso.