Kendari, Mei 2016

Kendari itu ibu kotanya Sulawesi Tenggara, dari Bandung untuk ke kota ini harus transit di Makassar. Saat itu kami pesan tiket pukul 6 pagi WIB ke Makassar connected flight jam 9.45 WITA  dari Makassar ke Kendari. Kami pesan via online dan sistem maskapai memberikan jadwal penerbangan tersebut. Terkejar pesawat transitnya? Saat itu tidak, karena dari Bandung keberangkatannya delay 1 jam. Alhasil pesawat ke Kendarinya diganti oleh maskapai menjadi pukul 13.00 WITA. Sempatlah kami main-main di bandara Makassar sejenak.

Kapal phinisi di bandara Makassar.
Mungkin karena masih pagi jadinya bandara ini agak sepi. Sebenarnya ini salah satu bandara super sibuk di Indonesia lho..

Penerbangan Makassar ke Kendari gak pakai lama, kurang dari sejam. Nunggu pesawatnya siap saja yang lama. Sampai lah kami di hotel tempat acara dinas kami dan istirahat hingga Maghrib. Oya saya juga telpon teman saya yang asli Kendari untuk bisa menunjukkan kota tempat tinggalnya.

Teman saya asal Kendari.

Kami ke kota ini dalam rangka dinas, esok hari segara urusan kerjaan mulai kami kerjakan dari pagi hingga sore.

Sosialisasi beasiswa ke pemerintah kota Kendari.
Tidak lupa absen.

Beres acara, hari masih sore. Bagi yang belum pernah ke Kendari, jadi kota ini berada di teluk yang namanya sama dengan nama kotanya. Betul pinggir pantai tapi gak ada pantainya, malah lebih mirip danau. Bahkan katanya mau direklamasi (infonya 2016, gak tahu sekarang).

Berdiri di tengah teluk kendari yang sebagian sudah ditimbun.
Tidak ada pantainya, airnya pun terlihat tenang dan dangkal.
Meskipun dangkal, sepertinya dasar air ini adalah lumpur yang bisa nyedot ke bawah.
Sore hari langit bisa terlihat biru seperti di gambar ini.
Ba’da maghrib di teluk Kendari banyak yang jual pisang epe khas Makassar.

Ke kota orang, hal yang wajib saya lakukan adalah wisata kuliner. Bagi saya, dengan kuliner kita bisa mencicipi ragam budaya suatu ‘nagari’. Jelas sekali kuliner Kendari ini sangat terpengaruh ragam budaya Makassar. Ikan masak palumara dan masak woku di sini langsung menjadi favorit saya, kedua metode itu berasal dari nagari Makassar. Bahkan menurut saya, saya lebih suka versi Kendari. Oya.. ada juga seafood bakarnya dan kali itu saya pesan udang bakar yang harganya jauh lebih ekonomis di bandingkan jika beli di Bandung. Hmm.. kira-kira sama seperti beli udang dan dibakar di pasar Indramayu (sebagai info, Indramayu itu di Pantura dan terkenal dengan seafood dan mangga gedong gincunya). Sambalnya agak unik, racik sendiri. Seru sekali, mau banyak atau sedikit tidak ada bayar asal mau bikin sendiri. Tersedia pula sambal kacang dan sambal acar. Jelas sekali jika saya ke kota ini lagi, yang pertama saya cari adalah kuliner seafoodnya. Terutama, palumara.. Maknyusss…

Menu seafood di pinggir teluk Kendari.
Sambalnya racik sendiri, kita bisa takar sesuai selera.
Udang bakar tidak diberi bumbu tambahan, Rasanya manis, persis Indramayu.
Sebenarnya ini es pisang ijo di bandara Makassar, saya lupa foto yang versi Kendari.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s