Ramadhan 1436H, Hari #26 & #27: Mudik ke Palembang

20150714_220853

Kilau jembatan Ampera di waktu malam.

Hari 25 dan 26 (salah tulis, yang benar 26 dan 27. Link url postingan ini tidak bisa berubah ^^) sengaja digabung, karena masih dalam perjalanan mudik dan sulit mencari waktu menulis (alasan saja, padahal memang malas). Mudik kali ini berbeda dari mudik saya sebelum-sebelumnya. Destinasinya adalah kota Palembang, kampung halaman ibu mertua saya. Ke sini saya dan istri menumpangi pesawat, sedangkan mertua dan adik istri saya perjalanan darat dengan mobil. Sewa pengemudi dari Indramayu. Adik ipar saya ini tidak bisa naik pesawat karena sakit, bisa saja tapi dia bisa ketakutan.

Kami naik pesawat kemarin siang pukul 14.15. Tidak delay, hanya antrian take off yang memakan waktu sejam. Musim mudik kali ini mungkin banyak yang menggunakan pesawat. Alhasil, kami menunggu sekitar 4 jam di bandara dan satu jam di dalam antrian take off. Sedangkan om kami, sudah menunggu di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sejak pukul 3 sore. Padahal pukul 3 sore itu kami masih antri take off di Cengkareng. Kesabaran benar-benar diuji kali ini, dalam kondisi puasa ditambah suara bising mesin jet dan pesawat yang sedikit bergoyang membuat perut menjadi kembung. Dalam kondisi ini banyak penumpang yang gelisah sehingga ingin bolak-balik ke toilet. Tapi setiap ada yang berdiri, saat itu juga nona dan nyonya (ada yang sudah pakai cincin di jari manis kanannya) pramugari menegurnya dan meminta kembali duduk.

Perjalanan udara Cengkareng-Palembang cukup singkat. Di udara sejam kurang sudah mendarat. Pertama kali saya ke Palembang? Ya, secara teknis saya belum pernah mengenal Palembang walaupun pernah lewat sini karena nyasar saat perjalanan darat mudik ke Padang. Kesan saya, kota ini adalah kota besar dan super padat lalu-lintasnya terutama di daerah jembatan Ampera. Ciri khas yang masih tidak berubah, jalanannya lurus dan panjang. Dulu waktu nyasar kami kebingungan karena jalan yang lurus dan panjang seperti tak ada ujung (ini lebay). Cuacanya panas, tapi lebih panas Padang. Makanannya? Khas sekali, serba ikan dan rasanya unik. So pasti enak.

Palembang

Ekspedisi Palembang.

Hari ke 2 di kota ini, sepupu-sepupu istri saya mengajak kami ekspedisi kota Palembang. Kami diajak berbuka bersama menu khas Palembang yaitu pempek dan es kacang merah. Pempeknya.. Palembang sekali. Es kacang merahnya lah yang spesial. Wajib coba kalau ke kota ini. Oya nama warungnya saya lupa, “Vico” kalau tidak salah ingat. Daerah mana? Cari saja di internet ya. Di depan PIM, saya tidak hafal daerahnya.

Pasca berbuka dan shalat kami ke salah satu mall besar di Palembang. Hanya lihat-lihat karena penasaran. Beberapa saat mengobati penasaran, kami pindah ke sisi jembatan Ampera dan berfoto di sana sambil melihat kilau Ampera di malam hari. Tak lama, kami pulang dan tidak lupa menunaikan shalat Isya dan Tarawih yang tertunda.

20150714_220927

Sungai Musi.

Apa yang saya lihat dan dengar tentang kota ini cukup baru bagi saya. Dulu Palembang saya dengar dikenal dengan hal negatif seperti banyak kriminal di sini, tapi sekarang kota ini sudah besar dan modern. Mungkin masih ada tindak kriminal, namun pengakuan keluarga kami di sini tidak sebanyak dulu.

Cukup seperti itu dulu perkenalan tentang kampung halaman baru saya ini. Pastinya akan sulit mengenal kota besar ini hanya dalam 2 hari saja. Next time akan saya tambah lagi postingan tentang Palembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s