Ramadhan 1436H, Hari #1: Ujian Sabar

Marhaban yaa Ramadhan. Awal Ramadhan 1436H ini saya dan istri sedang di kota Padang untuk beberapa hari. Sengaja.., karena rencananya tahun ini kami InsyaAllah berlebaran bersama mertua. Gantian, tahun lalu kami berlebaran di sini. Ini Ramadhan ke 2 kami berdua setelah menikah 23 Sya’ban 1435H. Kami “berdua”? Ya.. kami masih berdua kok, belum memiliki anak. Hehe..

Hmm.. apa ujian sabarnya di awal Ramadhan ini? Oke, awal mulanya menjelang berangkat ke Padang. Tiket jam 6 pagi sudah tinggal bayar via atm harus hangus karena terlambat bayar. Apa boleh buat? Lalu-lintas Bandung memang lagi macet-macetnya saat itu. Tapi saat pemesanan ulang, yang tersisa adalah tiket pukul 7 malam dan berhasil terbeli.

Jam 7 sore kami sudah di atas pesawat bersama ratusan penumpang lain. Tapi setelah satu setengah jam terkurung di dalam pesawat yang minim oksigen karena elektrik pesawat yang error mengakibatkan AC tidak berfungsi, kami akhirnya kembali ke daratan. Bukan di Padang, tapi masih di bandara Soeta. Kami turun karena pesawat batal terbang. Alhamdulillah, Kapten cukup bijak memutuskan tidak terbang. Tak terbayang kalau kehabisan oksigen di langit, masa buka jendela? Buah kesabaran dan kebijaksanaan, kami mendapatkan pesawat pengganti satu jam kemudian. Pesawat pengganti ini yang mengantarkan kami selamat sampai tujuan.

Oya, misi kami datang ke Padang ini adalah mengunjungi orang tua sekaligus mengurus masalah kartu keluarga kami yang belum jadi setelah menikah hampir 1 tahun masehi. Prosedurnya memang lumayan ribet karena jarak antar kantor yang terpaut sangat jauh. Ujian sabarnya adalah, petugas yang mengurus surat di masing-masing kantor yang berulah. Sengaja menahan dokumen kami dan tidak diurus segera. Ya.. terima kenyataan ternyata pegawai pemerintahan di sini masih “seperti itu”. Tapi syukur Alhamdulillah, karena ini Ramadhan pertama, pejabat pemerintahan semua sedang siap siaga di kantor karena memang bukan hari libur. Sedangkan warga tidak terlalu ramai. Saat melihat pejabat lewat, kami bisa langsung meminta legalisir dan melangkahi prosedur petugas “jahil” tadi. Semua beres dalam satu rencana, tinggal menunggu tanggal 7 hari untuk pengambilan hasilnya.

Ujian kesabaran belu  berakhir, baru pulang dari mengurus kartu keluarga, listrik pln mati. Sampai sekarang. Padahal tugas kantor/kampus masih menunggu untuk diselesaikan. Apa boleh buat, sabar saja. Semoga tidak lama lagi listrik pln kembali hidup. “Siapa yang sabar, akan beruntung”, semoga benar, InsyaAllah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s