Kaca Mata Baca

Suatu hari saya menghampiri pedagang kaca mata di depan kampus ITB.

Saya: “Mas, ada kaca mata baca?”

(Mas yang dagang kelihatan heran, gak percaya ada pemuda yang belum tergolong orang tua sudah bertanya tentang kaca mata baca)

Saya: “Plus dua setengah, Mas.”

Mas: “Berapa…., Pak?”

(Tampaknya si Mas menyangka saya memang sudah tua sampai dipanggil Pak)

Saya: “PLUS dua stengah, Mas. Yang frame-nya ringan dan lentur.”

Mas: “Plus dua setengah ya? Ada, Pak.”

(Saya pun memakai kaca mata yang diberikan si Mas, dan tidak disangka si Mas menyuruh saya membaca teks yang dia bawa)

Mas: “Cobain baca ini dulu, Pak. Kalau jelas berarti cocok.”

Saya: “Yah si Mas bercanda, mana bisa saya baca pakai kaca mata plus. Mata saya kan masih normal. Ini buat orang tua saya, saya pakai cuma mau cek modelnya aja. Haha..”

Namun saat itu saya tersadar kalau kemampuan penglihatan ini mulai berkurang. Tulisan “petunjuk obat” berukuran kecil yang disodorkan si Mas ke saya tidak dapat saya baca meskipun sudah mendekatkan atau menjauhkan kertas dari mata berulang-ulang. Pakai kaca mata justru terbaca meskipun agak pusing karena memang ukuran lensanya adalah ukuran lensa ayah saya. Allah SWT memang Maha Bijaksana tidak mencabut nikmat penglihatan ini sekaligus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s