Frozen

Cerita ini saya ingat kembali karena mendengar berita badai salju di kawasan Amerika Serikat. Konon katanya suhu di sana mencapai minus 51 derajad Celcius (di sana menggunakan skala Fahrenheit). Begini ceritanya.

Cerita ini mengambil waktu pada awal tahun 1994, pada salah satu kota kecil bernama Starkville di negara bagian Mississppi – USA. Tahun itu adalah tahun terakhir kami di negara seberang usai ayah menyelesaikan studi pascasarjananya pada salah satu universitas negeri di kota tersebut. Sebenarnya wilayah tempat tinggal kami tersebut lebih cenderung beriklim tropis dan jarang terjadi hujan salju pada musim dingin. Namun pada tahun itu, iklim Mississippi mengalami perbedaan dibandingkan tahun-tahun lainnya selama kami di sana.

Musim dingin adalah musim liburan anak sekolah. Pagi itu sekitar pukul 9 waktu setempat, kami sekeluarga (minus adik bungsu saya yang lahir setelah kami pulang ke Indonesia) sedang asik berkumpul di pinggir jendela geser (sliding-windows) khas bangunan apartemen di Amerika. Saat sedang gembira membicarakan kemampuan kami berbahasa Inggris, tiba-tiba adik perempuan saya sadar saat itu hujan mulai turun dan meminta saya yang kebetulan duduk di jendela untuk menutup kaca jendela. Ya, memang hujan tapi ini bukan hujan air.

“SALJU!!”, teriak saya.

Memang kaget karena baru kali itu saya melihat hujan salju yang selama ini hanya kami lihat di televisi. Dengan berbekal selembar jaket dan celana panjang jeans, saya pun keluar rumah karena tidak mau melewatkan momen tersebut. Beberapa hal kami lakukan saat hujan salju tersebut, mencoba menangkap salju yang turun, mengangakan mulut ke atas supaya bisa mencicipi rasanya salju, main kejar-kejaran, mengipas-ngipas salju yang turun, dan hal-hal lain yang mungkin sebagian orang menganggap kami konyol.

Beberapa tetangga yang menyadari turunnya salju pun turut meramaikan lapangan apartemen. Ramai memang mengingat saat itu adalah libur musim dingin. Tidak sampai satu jam, wajah kami sudah berhiaskan kristal es yang mirip garam, tangan mulai menebal karena dingin, dan rumput yang tadinya hijau kini telah menjadi putih bersih. Semua pasti tahu permainan yang menarik setelah salju terkumpul? Ya! apa lagi kalau bukan “PERANG BOLA SALJU!!”. Hari pertama memang menyenangkan, bahkan kami sekeluarga sudah merencanakan kegiatan liburan di hari berikutnya.

Hari kedua pasca hujan salju, tumpukan salju tampak semakin menebal. Kemarin saya berani keluar rumah meskipun hanya berbekal selembar jaket dan celana jeans yang melekat di badan. Hari kedua ini, bahkan 3 lembar jaket, 3 lembar sarung tangan, 2 lembar celana jeans, dan 2 lembar kupluk yang hanya kelihatan matanya saja pun tidak cukup melindungi badan dari frostbite. Hari itu kami sekeluarga berkumpul bersama rekan-rekan sesama dari Indonesia di kampus tempat kuliah ayah. Tujuannya cuma satu, ingin lihat pembuatan Snowman dengan wortel sebagai hidungnya. Jujur, dalam kondisi cuaca seperti itu bahkan atraksi membuat Snowman menjadi tidak menarik. Angin dingin berhembus cukup kencang, badan saya serasa akan terbang. Pohon-pohon pinus, cemara, dan almond tampak condong ke kiri dan hampir tumbang akibat kerasnya hembusan angin. Rasanya ingin cepat pulang dan duduk di dekat pemanas ruangan.

Hari ketiga pasca hujan salju, kami berencana untuk berekresi sedikit lebih jauh (saya lupa akan ke mana). Pagi itu kami semua sudah siap berangkat, Om Sulis, teman orang tua saya pun sudah datang. Om Sulis biasa membantu ayah saya menyetir kendaraan untuk perjalanan-perjalanan jauh. Tapi saat itu mesin mobil Mercury Topaz GS milik ayah tidak bisa dinyalakan. Saat menyalakan mobil, Om sulis memang belum membuka terpal penutup mobil. Dengan maksud memeriksa mesin mobil, Om Sulis dan kami semua justru kaget setelah membuka seluruh terpal. Body mobil penuh penyokan bekas hantaman benda keras. Seluruh kaca mobil dilapisi es tebal, bahkan sepertinya jika mobil menyala pun dipastikan tidak bisa jalan karena aspal saat itu sudah membeku. Ternyata semalam sudah terjadi hujan es.

Keputusan kami tidak keluar rumah hari ini pun tepat, beberapa jam berselang mucul peringatan bahaya badai salju di televisi dan radio. Suara sirine terdengar di sana sini, bersaut-sautan seperti akan terjadi perang. Benar saja, suhu saat itu menurun drastis. Pemanas ruangan kini menjadi tidak terasa, bahkan kami menggunakan “pakaian lengkap” di dalam rumah. Tidak ada suasana liburan, tidak ada siaran televisi, tidak ada siaran radio, listrik kadang-kadang mati, kami hanya menunggu di dalam rumah, terkurung dan kedinginan. Di luar rumah terdengar suara hembusan angin yang luar biasa kencang, sesekali terdengar suara derikan pohon tumbang, suara hantaman benda keras, dan pecahan kaca. Satu hal yang bisa dilakukan adalah tidur dan bertahan dalam kedinginan. FROZEN.

Badai berlangsung cukup lama, bahkan saya tidak tahu berapa hari badai salju terjadi (mungkin sekitar 3 sampai 5 hari). Saat badai, siang atau malam serasa tidak ada bedanya. Kami baru berani keluar setelah listrik menyala dan siaran televisi sudah bisa diakses. Pasca badai salju, pekan liburan musim dingin sebenarnya sudah usai namun pemerintah setempat sepakat untuk memperpanjang libur selama 3 hari, semacam cuti bersama yang dipakai untuk memperbaiki segala kerusakan akibat badai.

Bersyukur saat badai berlangsung, Ibu masih menyimpan persediaan makanan yang cukup. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan jika saat badai tidak ada makanan, tidak ada alat pemanas ruangan berbahan bakar gas (listrik padam sehingga alat listrik tidak dapat digunakan), tidak ada pakaian yang cukup, atau bahkan tidak ada peringatan sama sekali beberapa jam sebelum kejadian. Semuanya adalah kehendak Allah SWT.

Cerita tersebut tidak semuanya saya ingat, sebagian saya dapat dari cerita ibu dan ayah, sebagian lainnya dari mengingat-ingat momen di album foto saat bermain salju di hari pertama turunnya hujan salju. Seharusnya kita lebih bersyukur karena kejadian di Amerika tersebut tidak terjadi di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s