Lembur

Di suatu ruangan berukuran 15×10 meter pada sebuah gedung perkantoran, saya duduk di bangku yang terletak di tengah ruangan. Sebelah kiri terdapat papan tulis lebar dengan ukuran dua per tiga ruangan tersebut, disisakan sepertiga ruangan agar tidak menghalangi pintu masuk. Bagian belakang saya berjejer bangku-bangku yang diatasnya tidak pernah rapi dan selalu dihiasi tumpukan dokumen hasil survey. Angin malam menghembus lembut dari jendela di sebelah kanan saya. Dari jendela itu terdengar gaduhnya suara malam kota, mulai dari musik ala diskotik hingga musik dangdut koplo sayup-sayup masuk telinga dan sesekali berfusi menjadi irama tertentu dengan nada-nada dari suara kenalpot kendaraan bermotor. Tepat di bagian atas jendela tersebut terlihat jam dinding berbentuk lingkaran menunjukkan pukul 2.30 pagi. Tulisan Jumat pada jam tangan di pergelangan tangan kiri saya telah berganti menjadi Sabtu. Penerangan ruangan yang temaram menyembunyikan beberapa titik di ruangan ini.

Di hadapan saya saat ini, terdapat sebuah meja kerja dari serat kayu yang cukup lebar dan nyaman. Di atas meja terbaring sebuah laptop 14″ berwarna ungu muda yang sedang menampilkan baris-baris kode program. Pantulan cahaya biru dari laser optik mouse wireless di sebelah kanan laptop sesekali terlirik oleh mata saya seakan-akan menggoda tangan kanan saya untuk menyentuhnya.

Saya duduk dengan kaki kanan melipat ke atas kaki kiri, sambil mengoyang-goyangkan secara perlahan bangku beroda lima yang saya duduki. Mata saya menerawang jauh ke arah tembok yang berada beberapa meter di belakang meja kerja saya. Saat ini pikiran saya menjelajah jauh menelusuri lapisan akal untuk mencari cara membuat simulasi potensi penggunaan bahan bakar gas. Hingga akhirnya sampai pada titik koordinat tertentu di wilayah angan-angan, saya pun memutuskan untuk kembali ke dunia level satu saya. Saat itu pula saya tersadar bahwa mata saya sudah lelah. Namun sebelum saya membaringkan raga ini guna memperoleh energi baru, ada baiknya saya ambil tablet dan menuangkan pengalaman ini ke dalam tulisan sederhana, yang kemudian saya beri judul “Lembur”. Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s