Servis Si Biru Tahap Satu

Masih ingat kejadian ini, hari ini saya memutuskan untuk membawa si Biru ke bengkel. Saya pikir hanya ada satu bengkel yang cocok untuk perbaikan besar si Biru. Bengkel langganan ayah saya di suatu tempat di wilayah dekat Asia Afrika. Memang bengkel ini terkenal di kalangan rider pengoper gigi dengan tangan kiri sebagai bengkel berharga miring. Meskipun susah payah bawa si Biru dengan kondisi berantakan dari Masjid Salman ITB ke bengkel, akhirnya sampailah si Biru di tangan montir.

Pertama melihat si Biru, montirnya terlihat setengah hati ingin benerin si Biru. Entah butut lah, goreng lah, dan kata-kata lain yang bener-bener tidak mengenakan. Bagian yang dicek hanyalah bagian roda depannya saja. Mulai dari shock, per, ban, pelek, as ayun dan komponen-komponen lain harus diganti. Memang bagian tersebut sudah rusak total sehingga saya menyetujuinya dengan asumsi harga yang harus dibayar setelah dihitung sebesar 550 ribu-an dan include ongkos pasang.

Dengar saya menyetujui harga tersebut, baru montirnya semangat memperbaiki si Biru. Enam jam lamanya hanya untuk mengganti komponen-komponen tersebut, akhirnya si Biru pun telah didandani dengan komponen barunya. Tapi.. biayanya bengkak menjadi 670 ribu. Wajar saja, montirnya ‘main ganti‘ saja biar gampang. Sementara mesin si Biru ngak disentuh sama sekali. Nego sedikit, akhirnya berhasil turun hingga 624 ribu. Sialnya, 624 ribu adalah seluruh uang yang ada di dompet saya termasuk recehannya. Alhasil, ludeslah isi dompet, dan saya harus jalan tanpa uang sepeser pun.

Kejadian tidak menyenangkan terjadi saat saya akan pergi meninggalkan bengkel, montirnya tampak menunggu saya memberi tip di luar biaya perbaikaan sekedar uang rokok. Saya sudah bilang seluruh uang di dompet saya habis dan saya pikir montirnya pasti memahami kondisi tersebut mengingat harga yang saya bayar sudah include ongkos pasang. Saya pun meminta maaf atas kejadian itu dan dengan cueknya pergi dan tidak menghiraukan keluh kesah montirnya karena tidak diberi uang tip.

Karena kejadian ini, saya pikir si Biru tidak mungkin diservis dalam satu tahap sekaligus. Disamping kendala biaya, ada juga kendala kejenuhan montir yang membuat hasil servis menjadi tidak maksimal. Saya merancang servis dilakukan dalam 3 tahap, tahap pertama adalah proses yang telah dilalui saat ini yaitu memperbaiki bagian depan, tahap kedua menservis mesin dan bagian belakang, dan tahap terakhir setelah beres semua baru memikirkan penambahan asesoris. Setelah semua tahap beres, saya akan lebih protektif pada si Biru untuk menghindari peminjam-peminjam yang tidak bertanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s