Future Technology dalam IT

Pada tanggal 24 Mei 2012 pukul 16.00 WIB, saya berkesempatan mewawancarai Prof. Dr. Ir. Ing. Iping Supriana Suwardi, DEA. Beliau adalah guru besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Pada pertemuan dengan yang berlangsung selama hampir satu jam ini, beliau bercerita tentang beberapa gagasan tentang future technology di bidang IT. Berikut adalah pemaparan singkat tentang gagasan beliau pada future technology di bidang IT.

Komputer adalah sebuah alat yang bekerja dengan cara melakukan komputasi pada lingkup nol dan satu, atau dalam arti lain dapat dikatakan sebagai ekspresi boolean on dan off. Jika menggunakan pendekatan Fisika Quantum, ekspresi itu didapat dari pengelolaan pada sifat-sifat dari elektron dan proton yang merupakan sifat-sifat dasar alam semesta tentang materi dan energi. Atas dasar ini, maka feature technology dari IT adalah hardware menjadi tidak terlihat, atau dapat dikatakan hardware seolah-olah menjadi tidak ada wujudnya. Perkembangan teknologi pengendalian proton dan elektron akan memungkinkan harware terbuat dari gas, komputasi dapat dilakukan menggunakan udara dan gas tidak hanya terbatas pada unsur logam. Ukuran hardware menjadi sangat kecil dan cenderung tak berwujud sedangkan performa menjadi sangat besar handal. Gagasan ini sudah dibuktikan dengan semakin kecilnya processor komputer yang berkembang saat ini. Bahkan jika processor pada komputer super saat ini diukur, dimensinya ada pada unit beberapa centimeter bahkan milimeter saja.

Saat dikritisi tentang bagaimana cara sesuatu yang tidak berwujud tersebut dapat berinteraksi dengan manusia, beliau pun melanjutkan pembahasan tentang konsep semantik pada komputer.

Hal yang paling pertama harus dipahami oleh semua ahli IT adalah apa gagasan dan inovasi awal yang menginspirasi manusia membuat dan merancang sebuah komputer. Gagasan awal manusia pembuatan komputer adalah membantu pekerjaan manusia, bahkan hingga seratus persen. Komputer adalah mesin berfikir yang dapat membantu melaksanakan pekerjaan manusia. Panemuan komputer pertama merupakan langkah besar dalam menanamkan sifat berfikir pada komputer. Secara filsafat, rasio adalah sifat dasar yang hanya dimiliki oleh manusia dan yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Saat pertama kali komputer diciptakan, mesin mampu berfikir dan menemukan solusi pada persoalan yang membutuhkan peran akal fikiran meskipun hanya sebatas perhitungan sederhana seperti satu ditambah satu sama dengan dua.

Saat ini, komputer telah mampu melakukan komputasi yang sangat rumit bahkan menyamai kemampuan manusia. Jika komputer sudah menyamai manusia, tentunya komputer sudah mampu berfikir apa yang harus dilakukannya untuk dapat melayani manusia tanpa menunggu perintah. Kita tidak perlu menekan tombol enter untuk meminta bantuan pada komputer. Komputer secara otomatis berinisiatif membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya. Komputer juga mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia yang berbeda-beda, contohnya jika yang dibantu adalah anak SD maka komputer menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak SD dan jika yang dibantu adalah mahasiswa maka komputer akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan mahasiswa. Kecenderungan di masa yang akan datang adalah teknologi hardware ukurannya akan semakin mengecil bahkan hingga tak berwujud, sedangkan teknologi software akan berkembang semakin semantik.

Jika komputer dapat berfikir layaknya manusia dan memiliki performa yang bahkan melebihi manusia, lalu pada akhirnya bagaimana kita dapat membedakan antara manusia dan komputer? Untuk menanggapi hal ini, beliau melanjutkan pemaparannya.

Komputer adalah alat yang diciptakan dengan cara diprogram oleh manusia. Manusialah yang menanamkan kecerdasan pada komputer sehingga memiliki kemampuan yang menyamai kemampuan manusia. Jika manusia tidak memprogram komputer, maka komputer tidak lebih dari alat rongsokan yang tak berguna. Dengan kata lain, komputer dikatakan sebagai kepanjangan dari teknologi otak. Namun ada satu hal yang membedakan antara komputer dan manusia, yaitu freedom of choice. Manusia memiliki tingkat flexibility tinggi untuk memilih dan menentukan keputusan yang tidak mampu ditandingi oleh komputer. Jika manusia tidak memilih untuk mengembangkan future technology, maka tidak akan pernah ada future technology.

Terakhir, bagaimana pandangan beliau tentang kesalahan perhitungan dalam pembuatan kecerdasan buatan? Beliau tidak menepis hal tersebut dan melanjutkan penjelasannya.

Kesalahan adalah hal yang lebih sering terjadi dibandingkan dengan keberhasilan. Namun, pada dasarnya kesalahan perhitungan justru membuat suatu mesin menjadi lebih bodoh, bukannya semakin cerdas seperti yang kita lihat pada film-film yang beredar saat ini. Ukuran keberhasilan pembuatan kecerdasan buatan pada komputer pada hakikatnya adalah mampu menciptakan kehidupan manusia yang semakin manusiawi. Jika semua pengembangan teknologi saat ini sudah mengarah ke tujuan dasar ini, maka tidak ada yang perlu kita cemaskan pada perkembangan feature technology.

Sekian pemaparan yang bisa saya simpulkan dari pertemuan singkat dengan beliau. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s