Fisik dan Pikiran

Suatu hari, fisik (F) dan pikiranku (P) terlibat sebuah percakapan serius.

— Hari #-1 —

F: Temanku, tampaknya ada yang tidak baik dalam diriku. Tidakkah kau merasakan hal yang sama denganku?

P: Aku tidak melihat yang buruk dalam dirimu, temanku? Apa yang membuatmu berfikir demikian?

F: Entahlah temanku, setelah aku menemanimu melaksanakan kegiatan kuliah, kantor dan mengajar mu, aku sedikit merasa kelelahan.

P: Mungkin kamu hanya perlu sedikit istirahat temanku. Sebaiknya malam ini kamu cepat istirahat.

— Hari #-2 —

F: Temanku, tampaknya hari ini kondisiku memburuk. Bolehkah aku meminta istirahat extra hari ini?

P: Maaf temanku, sepertinya kamu baik-baik saja. Pikirkan kembali, kamu akan banyak tertinggal materi kuliah, pekerjaanmu menjadi terhambat dan kamu ditunggu oleh mahasiswa yang siap menerima ilmu. Coba paksa dirimu.

F: Baiklah temanku, akan aku coba.

— Hari #-3 —

P: Hai teman, bagaimana keadaanmu hari ini?

F: Benar juga perkataanmu, teman. Jika aku sedikit memaksakan diri, aku pasti bisa.

— Hari #-4 —

P: Hari ini agenda kita padat, kamu harus banyak makan dan minum temanku.

F: Baiklah teman, aku siap menjalani hari ini.

— Hari #-5 —

F: Hmm… temanku, aku tahu hari ini kita ada kegiatan. Tapi tidakkah kau lihat, aku sudah tidak bisa berpura-pura lagi. Kondisiku memburuk. Kita harus segera memeriksanya.

P: Ah.. tidak ada apa-apa. Kamu baik-baik saja. Besok juga pasti kembali fit seperti biasa.

— Hari #-6 —

P: Teman, ada apa denganmu? Mengapa kau tidak bereaksi pada perintahku?

F: Maaf teman, bukannya aku tidak mendengarkan. Tapi aku sudah tidak sanggup lagi. Aku sudah mencoba melaksanakan, tapi aku tidak bisa apa-apa.

P: Tenang saja teman, jika sekarang istirahat, sore hari kamu pasti sudah baik kembali.

F: Sepertinya hari ini saya tidak bisa setuju. Diriku bereaksi sendiri tanpa menghiraukan perkataanmu. Aku perlu perawatan.

P: Kamu jangan manja. Kamu tidak apa-apa. Kita banyak agenda, tidakkah terpikirkan olehmu?

F: Maaf teman, apapun perkataanmu, aku sudah tidak sanggup memenuhinya. Maafkan aku teman.

(Sore hari, dengan lemah mereka berangkat untuk menganalisa apa yang terjadi)

F: Teman, aku didiagnosa terserang penyakit berat. Apa yang harus kita lakukan?

P: Aku masih tidak percaya pada diagnosa itu. Pasti ada kesalahan. Baiklah, hari ini kita ikuti saja saran dokter untuk minum obat dan istirahat total. Tapi janji, besok kamu sudah harus sembuh.

— Hari #-7 —

F: Teman, analisa dokter hari ini kondisiku bertambah parah. Apakah aku harus istirahat atau melaksanakan agenda kita?

(namun tidak ada jawaban dari P)

F: Teman? Apa yang terjadi denganmu?

P: (Dengan lemah) Teman, aku tidak bisa apa-apa. Sepertinya aku sedikit lumpuh. Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Apa yang terjadi denganku?

F: Teman, apa yang kamu rasakan sama dengan apa yang aku rasakan. Kita sedang terserang penyakit. Bolehkah kita mengikuti saran dokter dan beristirahat total beberapa hari. Kita tangguhkan semua agenda kita hingga kita benar-benar fit. Bagaimana menurutmu?

P: Baiklah teman, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

— Hari #-8 —

F: Teman, usaha kita berhasil. Hasil diagosa hari ini penyakit kita sudah hilang. Tapi sayang sekali, kita belum boleh beraktifitas sebelum kondisi kita benar-benar pulih.

P: Baiklah teman. Yang paling penting kita harus segera pulih.

(hari #-9 hingga hari #-14 mereka pun mengikuti saran dokter untuk istirahat total)

— Hari #-15 –

F: Teman, sepertinya aku sudah siap melaksakan tugas-tugasku. Mari kita mulai mengerjakannya satu per satu. Bagaimana menurutmu?

P: Baiklah temanku, aku pun sudah siap. Tapi sebelum mengerjakan aktifitas ini, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu, teman. Aku mau minta maaf atas perbuatanku beberapa hari ini. Aku sudah lupa diri dan terlalu memaksamu melaksakan agenda yang sudah kususun. Aku sudah meragukan pendapatmu dan tidak mendengarkan perkataanmu. Maafkan aku teman, aku akan banyak belajar dari kejadian ini.

F: Tidak apa-apa teman. Aku pun banyak belajar dari kejadian ini. Maafkan aku karena sudah banyak meminta padamu dan menolak keinginanmu. Ketahuilah teman, kita ini adalah satu dan saling bekerja sama melaksanakan aktifitas kita. Jika salah satu dari kita merasa tidak baik, maka yang lainnya harus bisa tanggap. Jelas aku tidak bisa apa-apa tanpamu, teman.

P: Baiklah temanku. Aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku. Aku pun tidak bisa melakukan apapun tanpamu, teman.

(Dua sahabat ini pun mendapatkan pelajaran paling berharga sepanjang hidupnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s