Rayuan Unyu-Unyu

A: Temen saya, B: Ibu dengan rayuan unyu-unyu..

Kira-kira belum sebulan yang lalu, ibu B datang ke rumah A,

B: Punten..

A: Eh.. Ibu, mangga atuh kalebet. Ibu kumaha damang?

B: Baik, ibu teh perlu duit anak ibu sakit.

A: Ibu perlunya berapa?

B: 200 ribu, buat beli obat.

A: Wah, ngak ada Bu klo segitu mah. Ada juga 50 ribu Bu.

B: Ya udah 50 ribu juga gak apa-apa. Ibu bisa pinjem ke yang lain. Hari Sabtu Ibu ganti.

A: Ya udah, ini bu. Maaf gak bisa bantu penuh.

B: Gak apa-apa, makasih banyak.

(Ternyata dikembalikan hari Minggu, karena A saat hari Sabtu pulang malam)

Berikutnya, hari Sabtu tanggal kemarin si Ibu B datang lagi ke rumah A,

B: (Sambil nyelonong masuk begitu saja ke rumah A) Punten, ada orang?

A: (karena sedang shalat Maghrib A tidak menjawab)

B: (Keluar lagi dan gak tau menunggu di mana)

A: (Selesai shalat, pergi ke luar ingin tahu siapa yang masik rumah) Eh.. Ibu.. kumaha damang?

B: (Kali ini B tidak basa-basi, to the point) Ibu teh tadi ada tamu, mau jual TV harganya 500 ribu. Ibu tawar Rp 400 ribu, ehh dia mau. Katanya butuh cepet. Nah ibu bisa pinjem uang gak sekarang? Berapa aja deh. Besok siang jam 12 ibu ganti.

A: (Bingung, tapi termakan juga dengan rayuan unyu-unyu si ibu) Ibu, adanya cuman 100 ribu.

B: Ya, gak apa-apa. Ibu bisa pinjem ke yang lain. Besok jam 12 siang ibu ganti.

Besok harinya ditunggu jan 12 siang, ternyata belum datang juga.

Bukan karena kapan dikembalikannya yang menjadi masalah, tapi entah apa lagi alasan B berikutnya agar A dapat meminjamkan uang ke dia.

Pengalaman lain, suatu hari tetangga saya meminjam uang yang tidak seberapa juga dan berjanji untuk menggantinya pada periode tertentu. Namun hingga sekarang, hutang itu seolah-olah sengaja dilupakan saja oleh peminjam. Walaupun saya beranggapan tidak perlu buru-buru diganti, efeknya adalah saat saya berpapasan depan rumah atau tidak sengaja bertemu di jalan, tetangga saya itu selalu memalingkan muka atau lari menghindar entah karena alasan apa.

Hmm.. sebenernya tulisan ini bukan bermaksud mengajarkan untuk menjadi orang pelit, tapi setidaknya pikirkan terlebih dahulu dampaknya sebelum meminjamkan uang kepada orang lain. Karena bisa saja berdampak yang tidak baik bagi masyarakat.

Semoga bermanfaat.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s