Archive

Archive for the ‘Teknologi Informasi’ Category

Future Technology dalam IT

25 May 2012 Leave a comment

Pada tanggal 24 Mei 2012 pukul 16.00 WIB, saya berkesempatan mewawancarai Prof. Dr. Ir. Ing. Iping Supriana Suwardi, DEA. Beliau adalah guru besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Pada pertemuan dengan yang berlangsung selama hampir satu jam ini, beliau bercerita tentang beberapa gagasan tentang future technology di bidang IT. Berikut adalah pemaparan singkat tentang gagasan beliau pada future technology di bidang IT.

Komputer adalah sebuah alat yang bekerja dengan cara melakukan komputasi pada lingkup nol dan satu, atau dalam arti lain dapat dikatakan sebagai ekspresi boolean on dan off. Jika menggunakan pendekatan Fisika Quantum, ekspresi itu didapat dari pengelolaan pada sifat-sifat dari elektron dan proton yang merupakan sifat-sifat dasar alam semesta tentang materi dan energi. Atas dasar ini, maka feature technology dari IT adalah hardware menjadi tidak terlihat, atau dapat dikatakan hardware seolah-olah menjadi tidak ada wujudnya. Perkembangan teknologi pengendalian proton dan elektron akan memungkinkan harware terbuat dari gas, komputasi dapat dilakukan menggunakan udara dan gas tidak hanya terbatas pada unsur logam. Ukuran hardware menjadi sangat kecil dan cenderung tak berwujud sedangkan performa menjadi sangat besar handal. Gagasan ini sudah dibuktikan dengan semakin kecilnya processor komputer yang berkembang saat ini. Bahkan jika processor pada komputer super saat ini diukur, dimensinya ada pada unit beberapa centimeter bahkan milimeter saja.

Saat dikritisi tentang bagaimana cara sesuatu yang tidak berwujud tersebut dapat berinteraksi dengan manusia, beliau pun melanjutkan pembahasan tentang konsep semantik pada komputer.

Hal yang paling pertama harus dipahami oleh semua ahli IT adalah apa gagasan dan inovasi awal yang menginspirasi manusia membuat dan merancang sebuah komputer. Gagasan awal manusia pembuatan komputer adalah membantu pekerjaan manusia, bahkan hingga seratus persen. Komputer adalah mesin berfikir yang dapat membantu melaksanakan pekerjaan manusia. Panemuan komputer pertama merupakan langkah besar dalam menanamkan sifat berfikir pada komputer. Secara filsafat, rasio adalah sifat dasar yang hanya dimiliki oleh manusia dan yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Saat pertama kali komputer diciptakan, mesin mampu berfikir dan menemukan solusi pada persoalan yang membutuhkan peran akal fikiran meskipun hanya sebatas perhitungan sederhana seperti satu ditambah satu sama dengan dua.

Saat ini, komputer telah mampu melakukan komputasi yang sangat rumit bahkan menyamai kemampuan manusia. Jika komputer sudah menyamai manusia, tentunya komputer sudah mampu berfikir apa yang harus dilakukannya untuk dapat melayani manusia tanpa menunggu perintah. Kita tidak perlu menekan tombol enter untuk meminta bantuan pada komputer. Komputer secara otomatis berinisiatif membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya. Komputer juga mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia yang berbeda-beda, contohnya jika yang dibantu adalah anak SD maka komputer menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak SD dan jika yang dibantu adalah mahasiswa maka komputer akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan mahasiswa. Kecenderungan di masa yang akan datang adalah teknologi hardware ukurannya akan semakin mengecil bahkan hingga tak berwujud, sedangkan teknologi software akan berkembang semakin semantik.

Jika komputer dapat berfikir layaknya manusia dan memiliki performa yang bahkan melebihi manusia, lalu pada akhirnya bagaimana kita dapat membedakan antara manusia dan komputer? Untuk menanggapi hal ini, beliau melanjutkan pemaparannya.

Komputer adalah alat yang diciptakan dengan cara diprogram oleh manusia. Manusialah yang menanamkan kecerdasan pada komputer sehingga memiliki kemampuan yang menyamai kemampuan manusia. Jika manusia tidak memprogram komputer, maka komputer tidak lebih dari alat rongsokan yang tak berguna. Dengan kata lain, komputer dikatakan sebagai kepanjangan dari teknologi otak. Namun ada satu hal yang membedakan antara komputer dan manusia, yaitu freedom of choice. Manusia memiliki tingkat flexibility tinggi untuk memilih dan menentukan keputusan yang tidak mampu ditandingi oleh komputer. Jika manusia tidak memilih untuk mengembangkan future technology, maka tidak akan pernah ada future technology.

Terakhir, bagaimana pandangan beliau tentang kesalahan perhitungan dalam pembuatan kecerdasan buatan? Beliau tidak menepis hal tersebut dan melanjutkan penjelasannya.

Kesalahan adalah hal yang lebih sering terjadi dibandingkan dengan keberhasilan. Namun, pada dasarnya kesalahan perhitungan justru membuat suatu mesin menjadi lebih bodoh, bukannya semakin cerdas seperti yang kita lihat pada film-film yang beredar saat ini. Ukuran keberhasilan pembuatan kecerdasan buatan pada komputer pada hakikatnya adalah mampu menciptakan kehidupan manusia yang semakin manusiawi. Jika semua pengembangan teknologi saat ini sudah mengarah ke tujuan dasar ini, maka tidak ada yang perlu kita cemaskan pada perkembangan feature technology.

Sekian pemaparan yang bisa saya simpulkan dari pertemuan singkat dengan beliau. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Salah Perhitungan dalam AI

25 May 2012 Leave a comment

IT dikembangkan dengan tujuan untuk dapat membantu pekerjaan manusia. Pengembangan perangkat IT berbasis artificial intelligence (AI) memungkinkan mesin dapat berfikir layaknya manusia. Lalu bagaimana jika dalam pengembangannya terdapat kesalahan dalam AI suatu mesin atau temuan di bidang IT? Bagi beberapa orang yang gemar menonton film sci-fiction berpendapat bahwa mesin tersebut dapat menjadi monster ganar yang tak terkalahkan dan kecerdasannya melebihi kecerdasan manusia. Pada dasarnya itu tidaklah benar, logikanya salah perhitungan dalam pembuatan AI justru berdampak pada penurunan kecerdasan dari mesin. Jadi bukannya semakin intelligence malah mesin tersebut seharusnya semakin bodoh dan sangat mudah untuk dikalahkan.

Lantas, bagaimana menjelaskan jika kelak muncul mesin-mesin sangat intelligence yang justru membawa petaka pada manusia? Itu adalah ulah manusia itu sendiri karena memprogram suatu mesin dengan AI yang dapat mengganggu kehidupan manusia, bukan kesalahan komputer atau mesin. Freedom of choice lah yang akhirnya dapat membedakan antara manusia dan komputer. Komputer hanya dapat berbuat sesuai dengan program yang ditanam padanya, sedangkan manusia dapat berbuat sekehendaknya.

Semoga bermanfaat ^_^..

Categories: Teknologi Informasi

Bising

21 May 2012 Leave a comment

Saat ini sudah pukul 3 pagi dan saya belum bisa memejamkan mata karena bising. Suara bising tersebut bukan berasal dari orang yang sedang teriak-teriak atau kucing sedang bergelut, tapi suara ini berasal dari perangkat elektronik yang ada di rumah saya. Mulai dari kipas pendingin laptop, kulkas, semburan air aquarium, hingga dispenser sedang dalam proses memanaskan air. Saya baru sadar ternyata teknologi yang ada saat ini masih butuh perbaikan dan pengembangan lebih lanjut, terutama dari hal-hal kecil seperti peralatan rumah tangga.

Brightness Level Histogram

18 May 2012 Leave a comment

Langkah-langkah membuat brigness level histogram image 3×3 pixels.

Brighness level histogram adalah salah satu basic operation pada image yang menunjukkan jumlah plot pixel yang berada pada tingkat kecerahan tertentu. Semakin tinggi batang histogram pada level tertentu menunjukkan bahwa semakin banyak pixel yang memiliki level kecerahan tersebut. Sumbu x dari histogram menunjukkan 8 bit tingkat kecerahan, dimulai dari 0 sampai dengan 255 dalam desimal, atau dari 00 hingga FF dalam heksadesimal. Sementara sumbu y menunjukkan jumlah pixel pada image yang memiliki brighness level tersebut.

Dari buku Nixon dan Aguado “Feature Extraction & Image Processing” (2008),  algoritma membuat brightness level histogram adalah sebagai berikut:

his(pic) := for bright <– 0 .. 255

__________ pixels_at_level[bright] <– 0

_______ for x <– 0 .. columns(pic)-1

__________ for y <– 0 .. rows(pic)-1

_____________ level <– pic[x][y]

_____________ pixels_at_level[level] <– pixels_at_level[level]+1

_______ pixels_at_level

Contoh penerapan algoritma tersebut untuk image sebesar 3×3 pixel dapat dilihat pada gambar di atas. Semoga bermanfaat. ^_^

IT ala Film The Avengers

17 May 2012 Leave a comment

Saya baru tahu kalau super hero di Marvel itu memiliki keahliah IT yang tinggi. Hal yang paling menarik perhatian saya adalah semua laboratoriumnya hanya terdiri dari perangkat-perangkat komputer. Salah satu teknologi masa depan bisa jadi semua perangkat laboratorium dapat digantikan dengan komputer. Jika semua laboratorium adalah laboratorium komputer, maka tidak ada lagi istilah laboratorium biologi, laboratorium kimia, laboratorium fisika, laboratorium bahasa, dan laboratorium lainnya.

Oya, ada satu istilah lagi yang bergeser maknanya dari film The Avengers ini. Istilah itu adalah megabytes. Beberapa waktu yang lalu kita masih mengartikan megabytes sebagai salah satu satuan unit dalam komputasi komputer, namun sekarang istilah ini bergeser arti menjadi ukuran kekuatan yang sangat kecil. Wajar saja, sekarang mainnya sudah giga-gigaan hingga tera-teraan wajar saja megabytes dianggap kerdil.

Teman Baru Si Ungu

26 April 2012 Leave a comment

Dua hari yang lalu si Ungu berkenalan dengan teman barunya yang sama-sama pabrikan Acer. Tipenya adalah Acer s3 (processor i5). Meski berasal dari label yang sama, namun mereka berdua sangat berbeda satu sama lainnya. Dari ketebalannya bisa dibandingkan dari foto di atas (kiri S3, kanan si Ungu). Berat temannya kurang lebih 30% dari berat si Ungu. Kehandalan processornya kurang lebih sama (i5), hanya si Ungu memiliki clock yang lebih besar. Ukuran diagonal layar LED si Ungu 0,7″ lebih besar dari temannya.

Kapasitas penyimpanan HDD sama-sama pada 500MB, hanya temannya tidak mudah untuk di-upgrade seperti yang dapat dilakukan pada si Ungu. RAM si Ungu sudah di-upgrade hingga 8GB, sedangkan temannya tetap pada 4GB dan sepertinya sulit untuk ditambah lagi. Port yang dimiliki si Ungu lebih lengkap dibandingkan temannya, yang paling mencolok adalah si Ungu memiliki pembaca disc yang tidak dimiliki temannya. Si Ungu boleh berbangga dengan kehandalan VGA berlabel NVIDIA 1GB yang tidak dimiliki temannya, tapi dari desain si Ungu pasti sangat iri sama temannya.

Sedikit review-reviewan dari saya tentang temannya si Ungu, yaitu Acer S3, desainnya sangat menarik dan besar layar cukup besar. Beratnya yang tergolong enteng membuat kita lupa bahwa kita sedang membawa laptop di dalam tas.. (jiah.. berlebihan pisan..). Performanya juga mantab. Harganya lumayan, lebih mahal dari si Ungu tapi jauh lebih murah dari produk-produk setipe dengan label lain. Tidak adanya port VGA out  dan hanya mengandalkan HDMI membuat beberapa proyektor tidak kompatibel dengannya. Tapi tenang.. sekarang proyektor sudah pakai teknologi wireless dan keunggulan Acer S3 ini ada pada kecepatan konektifitas jaringannya.

Dari segi bahannya, anti fingerprint bisa menjaga keeleganan tampilannya, hanya saking tipisnya jadi terkesan sangat fragile. Tapi untuk hal kokoh atau tidaknya saya kurang paham, memangnya ada laptop yang kokoh? Jawabannya ada, tapi tidak banyak atau hanya diproduksi untuk kepentingan khusus. Oya, ternyata isu yang digembar-gemborkan di forum-forum tentang Acer S3 ini ternyata benar. Ternyata keyboardnya terlalu dangkal dan feedback agak kurang terasa. Tapi lama-kelamaan pasti terbiasa, orang lain pakai touchscreen yang feedback-nya sama sekali tidak terasa saja tidak ada masalah apa-apa toh..?

Kesimpulan dari review-reviewan pada temannya si Ungu ini ternyata temannya pun memiliki performa yang kurang lebih mendekati si Ungu. Temannya sangat mengandalkan desainnya yang elegan. Sangat cocok untuk wanita karir. Ya.. wanita karir. Jika dikomparasikan.. Hmm.. saya tetap lebih cocok pada si Ungu untuk mendampingi kerja ataupun kuliah karena kehandalan dan kelengkapannya. ^_^