Archive

Archive for the ‘filsafat ilmu’ Category

Membuat Pertanyaan yang Lebih Baik

29 May 2012 1 comment

Bentuk pertanyaan pada  sebuah test atau uji kompetensi dapat berfariasi tergantung pada karakteristik soal yang akan digunakan. Salah satu ulasan menarik tentang bagaimana membuat pertanyaan untuk uji kompetensi dapat dibaca di sini [Paper1]. Sedangkan teknik pembuatan pertanyaan untuk tipe essay dapat dibaca di sini [Paper2].

[Paper1] lebih banyak membahas teknik membuat pertanyaan yang objektif pada tipe soal pilihan ganda dan sejenisnya. Beberapa hal yang disoroti pada referensi pertama ini adalah:

  • Setiap pertanyaan pilihan ganda selalu mengandung stem atau kalimat pertanyaan, option atau pilihan jawaban, key atau kata kunci jawaban, dan distracters atau jawaban yang salah.
  • Stem harus berupa kalimat pertanyaan yang jelas, contoh “Energi berbentuk gelombang elekromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380–750 nm pada bidang fisika disebut dengan …”. Contoh yang buruk “Energi berbentuk gelombang elekromagnetik disebut dengan …”.
  • Key harus memberikan jawaban yang sangat jelas dan paling tepat sesuai dengan stem. Contoh: “a. cahaya”, contoh yang buruk “a. pada ilmu fisika jika panjang helombang 380-750 nm disebut cahaya”.
  • Pemilihan distracterhendaknya tingkat relevansinya tidak jauh dari key. Contoh: “a. cahaya; b. suara”, contoh yang buruk “a. cahaya; b. garpu tala”. Perhatikan relevansi pilihan distracter yang masih relevan dengan kata kunci gelombang.
  • Kurangi pertanyaan negatif, seperti “mana yang TIDAK TERMASUK …”. Jika soal tersebut harus muncul, maka tandai dengan cetak kapital.
  • Hindari redudansi kata pada option. Contoh “a. bumi berputar mengelilingi matahari; b. bumi berputar mengelilingi bulan”. Sebaiknya kalimat tersebut dapat direduksi dengan memperbaiki stem menjadi “Revolusi bumi berarti bumi berputar mengelilingi …”. Optionnya menjadi “a. bumi – matahari; b. bumi – bulan”.
  • Hindari membuat soal yang mirip berulang-ulang sehingga menghasilkan clue jawaban. Contoh “1. Tokoh penemu dan pencipta pesawat adalah …” optionnya “a. Wright bersaudara; b. Marconi”. Soal pada bagian lainnya “2. Wright bersaudara menemukan dan menciptakan pesawat pada tahun …”. Soal tersebut terlalu banyak memberikan petunjuk terhadap peserta test.

[Paper2] melengkapi pembahasan tentang membuat soal dalam format essay. Menurut paper 2, soal essay lebih ditujukan untuk membuat pertanyaan dimana jawabannya bersifat subjektif. Hal ini bertolak belakang dengan model soal pilihan ganda yang mengutamakan objektifitas jawaban yang diterima. Adapun beberapa kriteria soal essay yang baik adalah sebagai berikut:

  • Peserta ujian dituntut untuk menulis jawaban dan argumen secara jelas daripada memilih salah satu jawaban yang dianggap benar.
  • Menantang peserta ujian untuk menjawab dengan kalimat singkat, padat dan jelas.
  • Jawaban yang dihasilkan hendaknya hasil pemikiran masing-masing peserta. Dengan demikian setiap jawaban tidak ada yang persis sama antara satu sama lainnya..
  • Jawaban akan bersifat subjektif, sehingga butuh penilaian dari pakar untuk menentukan akurasi dan kualitas jawaban.
  • Pertanyaan-pertanyaan essay yang paling efektif memerlukan pemikiran yang dalam dan original dari penjawabnya.
  • Pertanyaan essay dapat menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi atau kritis.
  • Hasil evaluasi adalah hasil evaluasi pada jalan pemikiran dan cara penjawab meyakinkan menggunakan teori-teori pendukung.
  • Pertanyaan dan tanggapan pada soal essay harus kongkrit dan mendekati persoalan dunia nyata.

Penggunaan model soal pilihan ganda yang memiliki sifat objektif akan sangat cocok digunakan untuk evaluasi pemahaman pada bidang ilmu pasti, sedangkan soal essay akan sangat cocok jika diterapkan untuk memancing sikap kritis dari penjawab. Berikut adalah contoh pertanyaan essay yang diberikan, namun belum efektif:

  1. Apa bedanya pengetahuan ilmiah dan pengetahuan non ilmiah?
  2. Apa perbedaan antara metode induksi dan deduksi pada metode ilmiah?
  3. Apa perbedaan filsafat Hume dengan Locke?

Pertanyaan essay di atas dianggap belum efektif karena pertannyan tersebut justru mengekang pemikiran pada pemahan definisi tertentu. Soal yang diajukan pun tidak memberikan jawaban yang kongkrit dan mendekati dunia nyata. Sikap kritis pun akan terkekang pada definis yang terdapat dalam buku. Efeknya adalah jalan pikiran penjawab tidak akan tampak jelas pada jawaban yang diperoleh.

Tiga soal di atas dapat dikonversi menjadi pertanyaan yang lebih efektif, yaitu sebagai berikut:

  1. Apa keunggulan serta kelemahan penelitian ilmiah dibandingkan dengan penelitian ilmiah. Berikan contoh sebuah kasusnya.
  2. Gunakan metode ilmiah secara induksi dan deduksi untuk mengatasi persoalan besar seperti kebakaran hutan di wilayah tropis.
  3. Proses apa saja yang harus dilakukan untuk menentukan ide dasar pada penelitian jika ditinjau dari filsafat Hume dan Filsafat Locke. Hubungkan dengan penelitian yang akan Anda lakukan dengan cara membuat road map penelitian berdasarkan masing-masing aliran filsafat dari dua tokoh tersebut.

Untuk membuktikan apakah pertanyaan di atas merupakan pertanyaan essay yang efektif, maka silahkan jawab sesuai dengan dasar pemikiran dan pemahaman masing-masing. Apabila penjawab membutuhkan pemikiran yang dalam dan mampu membayangkan solusi kongkrit yang mendekati persoalan dunia nyata, maka soal tersebut dapat dikatakan efektif. Namun, apakah soal ini merupakan model yang paling efektif? Jawabannya belum dan butuh penelitian lebih lanjut, karena belum semua kriteria soal yang efektif diacu dalam perancangan soal tersebut.

Categories: filsafat ilmu

Review Buku Teks Filsafat Ilmu

29 May 2012 Leave a comment

Pada review buku teks Filsafat Ilmu ini, saya mencoba mengkomparasi dua buku teks populer yang membahas Filsafat Ilmu secara lengkap mendalam. Buku teks tersebut adalah “Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan: Dari David Hume sampai Thomas Kuhn” oleh Donny Gahral Madian [MOIP02] dan buku “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer” oleh Jujun S. Suriasumantri [FISP82]. Pada tulisan ini saya mencoba mengkomparasi dari beberapa aspek, sebagai berikut:

Fisik buku

[FISP82]; tahun penerbitan 1982 dan direvisi 1990; terdiri dari 10 bab (Ke Arah Pemikiran Filsafat, Dasar-Dasar Pengetahuan, Ontologi: Hakikat Apa yang Dikaji, Epistemiologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar, Sarana Berfikir Ilmiah, Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmu, Ilmu dan Kebudayaan, Ilmu dan Bahasa, Penelitian dan Penulisan Ilmiah, dan Penutup).

[MOIP02]; tahun penerbitan 2002; terdiri dari 7 bab (Filsafat dan Ilmu Pengetahuan, Metode Ilmiah, Akal dan Pengalaman, Menggugat Positivisme Ilmu, Merunut Antirealisme, dan Pascapositivisme, Teori Kritis, dan Konstruktivisme, serta Ilmu Pengetahuan dan Persoalan Kita).

Format Penyampaian

[FISP82]; penyampaian materi berupa pemaparan dan penjelasan dari teori-teori dalam filsafat. Beberapa istilah dalam ilmu filsafat dijelaskan secara ekspositif dan definitif. Bahas yang digunakan pun adalah bahasa yang populer dan mudah dipahami. Karena penggunaan bahasa dan penjalasan yang definitif, maka buku ini banyak dikutip pada beberapa tulisan-tulisan filsafat baik yang ditulis oleh mahasiswa, pengajar, maupun para pemikir.

[MOIP02]; penyampaiannya materi diberikan secara naratif-deskriptif. Buku ini bercerita tentang latar belakang munculnya sebuah teori filsafat hingga bantahan-bantahan terhadap teori filsafat tersebut. Format penyampaian ini mengajak pembacanya memperoleh pengalaman luar biasa seolah-olah sedang berada pada masa filsafat tersebut muncul. Buku ini juga kental dengan istilah-istilah ilmiah sehingga butuh penalaran yang baik untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Sistematika

[FISP82]; secara sistematika, buku ini membahas seputar cabang-cabang ilmu filsafat secara sistematis dan mendalam. Setiap cabang ilmu filsafat dijelaskan secara mendalam pada tiap babnya. Penjelasan dilengkapi dengan tokoh dan contoh persoalan yang mendukung munculnya sebuah teori filsafat.

[MOIP02]; buku ini membahas perkembangan ilmu filsafat dan filsafat ilmu dalam bentuk timeline yang sistematis atau dengan kata lain dengan menggunakan pendekatan zaman. Pada bagian awal dibahas tentang awal mulanya manusia berfilsafat dan secara sistematis pembahasan dikembangkan berdasarkan perubahan zaman dan kondisi sosial. Hanya saja, sistematika timeline buku ini terputus pada abad pertengahan dimana filsafat Eropa sedang dikekang oleh Teologi, sementara pembahasan bisa dialihkan pada perkembangan filsafat yang sedang berkembang di wilayah Timur Tengah. Timeline juga dibatasi menjelang akhir abad ke 20.

Ruang Lingkup Kajian

[FISP82]; buku ini membahas filsafat menggunakan pendekatan definisi dan pendekatan sistematika. Di setiap pembahasan filsafat juga diberikan penjelasan menggunakan pendekatan sejarahnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat penyampaian filsafat dengan pendekaran definisi dan pendekatan sistematika. Ruang lingkup buku ini berfokus pada setiap cabang-cabang pada ilmu filsafat.

[MOIP02]; buku ini membahas filsafat menggunakan pendekatan sejarah, tokoh dan aliran. Setiap teori filsafat dijelaskan secara terstruktur sesuai dengan sejarahnya, kondisi lingkungan budaya saat munculnya aliran tersebut, tokoh-tokoh pencetus dan dasar pemikiran dan alirannya, serta trend yang berkembang di masanya. Menariknya, buku ini juga menyajikan perdebatan-perdebatan yang terjadi dalam upaya mengkritisi bahkan meruntuhkan teori filsafat tertentu. Ruang lingkup kajian filsafat pada buku ini tergolong lebih advance dan kompleks sehingga membutuhkan pemahaman yang baik dan sikap kritis serta proaktif untuk menyikapi setiap makna teori filsafat yang disampaikan dalam buku ini.

Kesimpulan

Kedua buku ini adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk dirujuk sebagai referensi teori-teori filsafat. Pendekatan yang digunakan sangat berbeda, namun kedua buku ini juga mempersoalkan objektivitas ilmu pengetahuan serta bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan yang objektif dan benar. Jika ditanya mana yang lebih baik, buku [FISP82] dapat digunakan untuk mencari definisi dan arti dari istilah-istilah dalam filsafat, bahasa yang digunakan pun mudah dimengerti. Sedangkan buku [MOIP02] digunakan untuk membahas filsafat secara lebih mendalam lagi. Bisa dikatakan bahwa buku [MOIP02] mengajak pembaca untuk menyelam lebih dalam pada ilmu filsafat dan filsafat ilmu. Keunggulan buku [MOIP02] adalahmengajak pembaca untuk sama-sama berfikir kritis terhadap munculnya sebuah teori filsafat.

Meskipun pada dasarnya kedua buku ini saling melengkapi satu sama lain, namun saya merekomendasikan untuk membaca buku [MOIP02] dan ikut tenggelam pada pemikiran kritis para filosofis dunia. Namun apabila ada istilah yang tidak dimengerti, maka buku [FISP82] dapat menjadi solusi persoalan ketidak mengertian tersebut.

Categories: filsafat ilmu

Rasionalitas Akal Pada Aliran Filsafat

28 May 2012 2 comments

Meninjau aliran filsafat dari sisi tingkat rasionalitas akal adalah objek yang menarik untuk dibahas. Pada dasarnya setiap aliran filsafat pasti memerlukan peran akal, hanya saja yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana filosof-filosof tersebut menanggapi akal sebagai  sumber utama ilmu pengetahuan. Berikut adalah pemetaan rasionalitas akal yang dikutip dari “Gambarkan Secara 3D atau 2D Posisi Isme-Isme (Aliran-Aliran dalam Filsafat) ke Dalam Peta Filsafat” (Regina Yasmin).

Jika dilihat dari sisi rasionalitas dan empiris, aliran-aliran filsafat yang paling mengutamakan empirisme adalah empirisme itu sendiri dan positivisme. Aliran filsafat yang imbang antara rasionalisme dan empirisme adalah positivisme.

Sedikit mengkritisi diagram di atas, penyajian ukuran menggunakan balon dan bubble mempermudah pembaca untuk membandingkan tingkat rasionalitas akal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah keterangan tentang sumbu x dan sumbu y dari diagram yang tidak dicantumkan oleh penulisnya. Selain itu, perlu juga ada penjelasan tentang makna ukuran besar kecilnya suatu bubble dalam diagram tersebut.

Categories: filsafat ilmu

Future Technology dalam IT

25 May 2012 Leave a comment

Pada tanggal 24 Mei 2012 pukul 16.00 WIB, saya berkesempatan mewawancarai Prof. Dr. Ir. Ing. Iping Supriana Suwardi, DEA. Beliau adalah guru besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Pada pertemuan dengan yang berlangsung selama hampir satu jam ini, beliau bercerita tentang beberapa gagasan tentang future technology di bidang IT. Berikut adalah pemaparan singkat tentang gagasan beliau pada future technology di bidang IT.

Komputer adalah sebuah alat yang bekerja dengan cara melakukan komputasi pada lingkup nol dan satu, atau dalam arti lain dapat dikatakan sebagai ekspresi boolean on dan off. Jika menggunakan pendekatan Fisika Quantum, ekspresi itu didapat dari pengelolaan pada sifat-sifat dari elektron dan proton yang merupakan sifat-sifat dasar alam semesta tentang materi dan energi. Atas dasar ini, maka feature technology dari IT adalah hardware menjadi tidak terlihat, atau dapat dikatakan hardware seolah-olah menjadi tidak ada wujudnya. Perkembangan teknologi pengendalian proton dan elektron akan memungkinkan harware terbuat dari gas, komputasi dapat dilakukan menggunakan udara dan gas tidak hanya terbatas pada unsur logam. Ukuran hardware menjadi sangat kecil dan cenderung tak berwujud sedangkan performa menjadi sangat besar handal. Gagasan ini sudah dibuktikan dengan semakin kecilnya processor komputer yang berkembang saat ini. Bahkan jika processor pada komputer super saat ini diukur, dimensinya ada pada unit beberapa centimeter bahkan milimeter saja.

Saat dikritisi tentang bagaimana cara sesuatu yang tidak berwujud tersebut dapat berinteraksi dengan manusia, beliau pun melanjutkan pembahasan tentang konsep semantik pada komputer.

Hal yang paling pertama harus dipahami oleh semua ahli IT adalah apa gagasan dan inovasi awal yang menginspirasi manusia membuat dan merancang sebuah komputer. Gagasan awal manusia pembuatan komputer adalah membantu pekerjaan manusia, bahkan hingga seratus persen. Komputer adalah mesin berfikir yang dapat membantu melaksanakan pekerjaan manusia. Panemuan komputer pertama merupakan langkah besar dalam menanamkan sifat berfikir pada komputer. Secara filsafat, rasio adalah sifat dasar yang hanya dimiliki oleh manusia dan yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Saat pertama kali komputer diciptakan, mesin mampu berfikir dan menemukan solusi pada persoalan yang membutuhkan peran akal fikiran meskipun hanya sebatas perhitungan sederhana seperti satu ditambah satu sama dengan dua.

Saat ini, komputer telah mampu melakukan komputasi yang sangat rumit bahkan menyamai kemampuan manusia. Jika komputer sudah menyamai manusia, tentunya komputer sudah mampu berfikir apa yang harus dilakukannya untuk dapat melayani manusia tanpa menunggu perintah. Kita tidak perlu menekan tombol enter untuk meminta bantuan pada komputer. Komputer secara otomatis berinisiatif membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya. Komputer juga mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia yang berbeda-beda, contohnya jika yang dibantu adalah anak SD maka komputer menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak SD dan jika yang dibantu adalah mahasiswa maka komputer akan menyesuaikan diri dengan kebutuhan mahasiswa. Kecenderungan di masa yang akan datang adalah teknologi hardware ukurannya akan semakin mengecil bahkan hingga tak berwujud, sedangkan teknologi software akan berkembang semakin semantik.

Jika komputer dapat berfikir layaknya manusia dan memiliki performa yang bahkan melebihi manusia, lalu pada akhirnya bagaimana kita dapat membedakan antara manusia dan komputer? Untuk menanggapi hal ini, beliau melanjutkan pemaparannya.

Komputer adalah alat yang diciptakan dengan cara diprogram oleh manusia. Manusialah yang menanamkan kecerdasan pada komputer sehingga memiliki kemampuan yang menyamai kemampuan manusia. Jika manusia tidak memprogram komputer, maka komputer tidak lebih dari alat rongsokan yang tak berguna. Dengan kata lain, komputer dikatakan sebagai kepanjangan dari teknologi otak. Namun ada satu hal yang membedakan antara komputer dan manusia, yaitu freedom of choice. Manusia memiliki tingkat flexibility tinggi untuk memilih dan menentukan keputusan yang tidak mampu ditandingi oleh komputer. Jika manusia tidak memilih untuk mengembangkan future technology, maka tidak akan pernah ada future technology.

Terakhir, bagaimana pandangan beliau tentang kesalahan perhitungan dalam pembuatan kecerdasan buatan? Beliau tidak menepis hal tersebut dan melanjutkan penjelasannya.

Kesalahan adalah hal yang lebih sering terjadi dibandingkan dengan keberhasilan. Namun, pada dasarnya kesalahan perhitungan justru membuat suatu mesin menjadi lebih bodoh, bukannya semakin cerdas seperti yang kita lihat pada film-film yang beredar saat ini. Ukuran keberhasilan pembuatan kecerdasan buatan pada komputer pada hakikatnya adalah mampu menciptakan kehidupan manusia yang semakin manusiawi. Jika semua pengembangan teknologi saat ini sudah mengarah ke tujuan dasar ini, maka tidak ada yang perlu kita cemaskan pada perkembangan feature technology.

Sekian pemaparan yang bisa saya simpulkan dari pertemuan singkat dengan beliau. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Pemetaan Aliran-Aliran Filsafat

17 May 2012 4 comments

Pemetaan aliran-aliran dalam filsafat. Semakin menjauh dari titik pusat lingkaran, maka filsafatnya akan semakin ekstrim. Sebaliknya jika berada pada pusat lingkaran, maka poin tersebut tidak dibahas sama sekali.

Categories: filsafat ilmu

Tes Turing: Manusia vs Komputer

10 April 2012 Leave a comment

Tes Turing adalah tes untuk menguji kehandalan dari intelegensia buatan. Skema dan penjelasan lainnya dapat di lihat di sini. Pada intinya, tes turing ini adalah rangkaian uji coba pada suatu sistem intelegensia buatan sehingga tidak ada yang tahu bahwa output dari sistem tersebut adalah hasil pemikiran komputer, artinya komputer dapat berfikir layaknya manusia.

Sebagai salah satu contoh, pada tulisan saya sebelumnya terdapat sebuah paper generator yang dapat membuat paper secara otomatis dalam waktu singkat. Untuk membuktikan intelegensia buatan pada paper generator tersebut sudah handal, maka paper yang berhasil di generate otomatis dipublish pada konferensi namun kecuali developer tidak ada pihak lain yang mengetahui bahwa paper tersebut adalah paper hasil generator. Menurut pengakuan developernya, paper tersebut berhak untuk dipublikasikan dan tidak ada keraguan baik dari segi bobot konten maupun dari segi plagiat. Mengerikan bukan?

Diadakannya tes turing ini sebenarnya bukan semata-mata membuat komputer menjadi super cerdas, namun juga menuntut manusia untuk menemukan apa celah kelemahan manusia dan membuat suatu strategi dan sistem yang dapat menandingi sistem intelegensia buatan tersebut. Jadi, jika suatu saat terjadi perselisihan antara manusia dengan komputer, maka manusia akan selalu lebih pintar dari komputer.